Rumah Retak Warga Gang Seruni Wadul Dewan

0
37

KABARHIT, SURABAYA – Sejumlah warga Gang Seruni III RT 12 RW 10 Kelurahan Tanah Kali Kedinding Kecamatan Kenjeran Surabaya mengadu ke Komisi A DPRD Surabaya. Kamis (08/04/2021). Pasalnya mereka menyampaikan keluhan terkait dengan  adanya pembangunan gudang yang dinilai tidak sesuai dengan peraturan Perda, sehingga berdampak terhadap kerusakan  dilingkungan rumah warga Gang Seruni III RT 12 RW 10

Haniyah salah satu warga RT 12 RW 10 Kelurahan Tanah kali Kedinding Surabaya yang terdampak saat ditemui usai hearing dengan komisi A mengatakan, Kami sangat tidak setuju dan keberatan adanya pembangunan pergudangan ditengah tengah pemukiman rumah warga

Menurut Haniyah Kerusakan rumah dan kebisingan ini, karena adanya pengerjaan pembangunan untuk pemukiman sesuai dengan bunyi surat tersebut, tetapi ternyata pembangunan pergudangan.

“Kami sangat tidak setuju adanya pembangunan pergudangan ditengah tengah pemukiman rumah warga,” ungkapnya.

Sehingga, kata Haniyah, rumah miliknya dan empat rumah warga lainnya mengalami kerusakan retak retak akibat pembangunan pergudangan sudah berjalan sejak bulan november lalu.

“Ada empat rumah yang mengalami kerusakan retak retak termasuk rumah saya atap plafonnya mau roboh ini,” keluhnya.

Untuk itu, dia berharap, tidak meminta ataupun menuntut terlalu muluk muluk kepada kontraktor pembangunan, kalau memang pondasinya rumah rusak lebih baik diangkat atau dicabut untuk diperbaiki seperti semula.

“Contoh seperti saat asbes rumah saya rusak, saya minta kepada tukangnya langsung diperbaiki, tetapi kalau ada yang rusak sekarang, sulit minta diperbaiki,” kata Haniyah.

Sementara itu , Hardiono selaku Pemilik CV Graha Bangun Utama Pelaksana Pembangunan Gudang, mengatakan  Sebelum hearing ke DPRD Kota kami sudah hearing dulu ke Satpol PP kota, dan kami diberi solusi diberi masukan akta kesepakatan, ternyata tidak ada/ Deadlock dan ini sampai terjadi begini ini.

Pada hari ini kami di undang oleh komisi A DPRD Kota Surabaya dan hearing pun juga deadlock dan tidak ada kata kesepakatan saat itu,

” Saya maunya selesai kalau ada rusak, saya sebagai pengembang akan saya perbaiki ternyata dari warga tidak mau di perbaiki, maunya di perbaiki diangkat pondasi,”  ujar Hardiono

Lebih lanjut, Untuk Angkat pondasinya itu tidak mungkin, makanya tadi Pak Michele komisi A juga Seorang Kontraktor kalau diangkat tidak y tidak mungkin, lebih baik panggil independen, biar independen yang menilai.

Saya (Hardiono) sudah mengajukan, asal saya bukan memberi nominal mereka dulu yang memberi Nominal, mereka yang membuat satu proposal minta ganti rugi per warga 25 juta, Kami keberatan belum terdampak kok begitu,” ujar  selaku pengembang atau kontraktor

katanya staf saya yang memberikan iming iming atau pelaksana saya yang beri iming iming ” sudah gampang kalau rusak Diperbaiki” itu Staf saya yang bilang begitu.” terangnya.

Saya sebagai Warga Indonesia sebelum ada pengembangan dan pembangunan, saya kulo nuwun dulu, semua tanda tangan disangkal, kalau disangkal ini ada orang saya yang minta tanda tangan ke warga dan ini disangkal semua oleh mereka.” tutupnya

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya Budi Leksono menjelaskan, kami menerima pengaduan dari warga yang terdampak yang mana bangunan rumahnya retak retak, sudah di mediasi kelurahan sampai lima kali bahkan terakhir kali pun informasinya sampai di Satpol PP.

Pada siang tadi belum ada titik temu, kita masih mendengarkan sebelum kita mengundang semuanya, Jadi kita nanti ada kita undang KLH, dinas cipta tata ruang serta Satpol PP, kelurahan maupun kecamatan serta warga sehubungan dengan kejadian yang ada di wilayah tersebut.

Pertama bangunan gudang juga nanti kami pertanyakan di mana untuk pemukiman atau memang untuk gudang., kedua kalau pun ada titik temu, ini kan masih pertama, pertama  memanggil dari konsultan independen sehingga mengenai ganti rugi apakah bangunan rumah ini sudah bangunan lama atau baru sehingga bisa diukur nilainya yang bisa disampaikan,” tutur Budi Leksono

kita jangan sampai permasalahan ini berhenti di sini, kita harus menanyakan kejelasan,  dan ini untuk apa, jangan sampai selesai di sini.

“Besok ada permasalahan baru di mana warga akan memprotes atau menolak akan keberadaan gudang tersebut. Misalnya akan dibuat yang ada limbahnya, ini juga kita tanyakan untuk apa gudang tersebut.”ungkapnya

karena kita kalau bicara gudang pasti akan ada lalu lalang aksesnya ini di fasilitas jalan warga ini akan lewati mungkin mobil besar atau mengganggu kegiatan warga masyarakat/ informasinya ini untuk gudang gudang  penimbunan atau distributor, menurut informasinya untuk bir, hal ini akan bertentangan area pemukiman ini tadi Permasalahan yang ada di komisi A.

“Jadi ini masih belum ada titik temu, mudah mudahan besok yang kedua agar tuntas apa yang menjadi keinginan warga bisa terpenuhi dan juga pemilik ( kontraktor) benar benar sesuai apa yang di sampaikan dengan komitmen awal,” tutupnya

and

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here