Para Pelaku Usaha di G-Walk Banyak Yang Menjerit serta Banyak Aturan dan Pungli

0
59
Salah satu tenant yang mendirikan di Pendistrian di area 2 makanan tradisional

KABARHIT, SURABAYA –  Di malam hari G Walk merupakan area tempat makan, terdiri dari restauran dan cafe berderetan sepanjang puluh meter Keunikannya, terdapat dua area yang saling berserberangan.

Pada area pertama deretan cafe yang mempunyai suasana cukup syahdu dan menyajikan bermacam macam makanan modern

Sedangkan pada area kedua menyajikan lebih banyak makanan tradisional baik di modifikasi maupun yang kental akan rasa aslinya

Namun beberapa saat duduk, pikiran saya mulai terbetik, melihat ratusan mobil dan motor yang terparkir di sepanjang jalan di tengah area Taman Gapura atau biasa disebut G-Walk yang panjangnya sekitar 800 meter.

“Di dalam benak saya, pastilah disini ada tukang parkirnya dan ini bisa menambah pendapatan daerah Pemkot Surabaya.

Namun saya terkejut,  ternyata parkiran sepanjang 800 meter di G- Walk tidak dipungut biaya bahkan sepeda motor banyak berjejer di tengah area G – Walk itupun tidak dipungut biaya juga

Sesuai informasi dari beberapa sumber di lokasi, bangunan cafe, restoran dan rumah hiburan ini berdiri di jalur hijau mereka para pelaku usaha meletakkan meja kursi dan rombong di area perindistrian

“Mereka ini, para pedagang memasang tenda-tenda secara permanen di area pendestrian yang seharusnya diperuntukkan bagi para pejalan kaki.

Seharusnya di pakai pejalan kaki malahan di pakai berjualan dan parkir sepeda motor

Belum lagi, ada toko bangunan yang berada di area pertama G – Walk meletakkan dagangnya dengan seenaknya, adapula ATM Center berdiri di area pendestrian.

” Kalau mau jalan-jalan disini pasti kesulitan mas, ayo kamu liha ada gak, petugas parkiri / jukir disini, malahan yang lihat kami Mobil dishub di sini hanya lewat saja,” ujar kawan nongkrong saya

” Yang menjadi pertanyaan adalah status fasum/fasos apakah dibawah pengeloaan pihak pemerintah ataukah masih pihak pengembang ?” tanya kawan saya.

Menurut beberapa Sumber di lokasi, memang disini untuk urusan apapun semuanya di serahkan ke pengembang, dan sudah terjadi belasan tahun dan sepertinya ada pembiaran dari pemerintah kota Surabaya.

Untuk penarikan retribusi disini memang ugal ugalan untuk kebersihan dan uang keamanan saja sekitar 700 ribu per stand itupun belum termasuk listrik dan air, padahal listrik, air kan ada tarif dasar.

“Sedangkan cafe cafe di area pertama bayaranya di Citra land dan Perdanya ada, seharusnya tidak boleh, jadi jalur hijau sebagian dari fasum,” ungkapnya,

” Untuk urusan IMB pun, itupun diurus semuanya oleh pengembang, tanpa langsung ke dinas berwenang,” imbuh salah satu warga Citraland yang tidak mau disebutkan saat kebetulan kami nongkrong bersama.

Kabarnya, Citraland adalah penyumbang terbesar pemkot Surabaya. Entah berapa sumbangannya per tahun, tapi yang saya tahu, Walikota-pun akan datang kesini apabila dipanggil oleh pihak Citraland,” tambah warga yang enggan disebut nama maupun alamat tempat tinggalnya.

Merujuk Pasal 47 point (4) UU Perumahan No. 1 tahun 2011 disebut, Prasarana, sarana, dan utilitas umum yang telah selesai dibangun oleh setiap orang harus diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

” Kalau mengacu UU diatas, maka seharusnya pengeloaan PSU sudah ada di tangan pemerintah kota Surabaya melalui SKPD nya.” Ujarnya

Menurut beberapa pelaku usaha di lokasi tersebut, semua tenant baik sewa, restribusi dll dikelola oleh pihak pengembang. Untuk urusan IMB pun, mereka mengaku tidak punya karena saat diminta alasan pihak pengembang menyatakan ini merupakan jalur hijau dan tidak bisa dikeluarkan ijin mendirikan bangunan (IMB).

Anehnya, meski diduga jalur hijau (RTH), tapi semua Tenant dibangun secara pemanen dengan desain yang berlainan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing.

Harga sewanya pun bervariasi menurut salah satu toko kecil yang berada diantara dua restoran besar.

” Ia mengaku, sebulan kami harus membayar 2 juta untuk sewa stan berukuran sekitar 10 meter persegi, mas,” ungkapnya yang enggan tidak mau menyebutkan namanya.

Bayangkan, untuk sekitar 10 meter pesegi, harga sewanya 2 juta. Nah, untuk tenant yang luasannya diatas 100 meter persegi berapa harga sewanya, dikalikan ratusan tenant yang ada.

Sekitar 1 km di sebelah utara G-Walk juga terdapat sebuah pasar modern TPR yang diduga juga menggunakan ruang terbuka hijau

Kalaulah pajak restribusi resto dan parkiran dimaksimalkan, pikir saya, tentunya sangat besar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang didapat Pemkot Surabaya dalam setahun.

Pertanyaannya lagi, apakah selama ini sudah ada serah terima Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) Kawasan Perumahan tersebut kepada Pemerintah kota Surabaya sesuai aturan, apakah memang diperbolehkan menyewakan fasum/fasos dan jalur hijau untuk aktivitas bisnis.

Kemudian apakah diperbolehkan menggunakan pendestrian sebagai tempat usaha, sedangkan diluar sana banyak pedagang kecil yang diobrak bahkan barang dagangannya disita karena ketahuan berjualan di pendestrian

Hal diatas sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) kota Surabaya No. 2 tahun 2014 tentang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, khusus di pasal 5 point (1) menyebut, Setiap orang dan/atau badan dilarang menghuni, melakukan aktifitas berjualan dan/atau memanfaatkan ruang terbuka di bawah jembatan/jalan layang, diatas tepi saluran dan/atau tempat-tempat umum lainnya secara terus menerus permanen. Ditambah lagi di pasal 10 dan 31 terkait larangan merubah fungsi jalan dan penggunaan trotoar sebagai tempat parkir juga terkait terbit bangunan

Sanksinya juga sudah diatur dalam pasal 44, dari teguran lisan, hingga Pencabutan izin. Selain sanksi administratif, untuk pelanggaran berat juga dapat dikenakan sanksi pidana seperti yang diatur dalam pasal 45.

Harapannya, pemerintah kota Surabaya menerapkan aturan tanpa tebang pilih, yang setorannya banyak diperbolehkan untuk menabrak hukum, sedangkan yang tidak setorannya minim atau bahkan tidak ada setoran diterapkan aturan dengan keras bahkan terkadang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

and

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here