SURABAYA, KABARHIT.COM - Suasana tahun baru terasa semakin semarak dengan hadirnya karya-karya desain busana hasil kreasi siswa Kelas XII Desain Produk Busana SMKN 6 Surabaya.
Berbagai model desain yang unik dan menarik, dengan kombinasi warna-warna cerah serta sentuhan elemen khas perayaan sesuai tema le festive fashion show, berhasil memukau mata para pengunjung.
Ketua Pelaksana yang juga Ketua Program Studi Desain Produk Busana SMKN 6 Surabaya, Raden Ayu Sari Wulandari, menyampaikan bahwa pemilihan lokasi di Royal Plaza bertujuan agar masyarakat dapat lebih mengenal SMKN 6 Surabaya melalui penampilan hasil karya yang telah dihasilkan oleh para siswa kami.
"Jika dilaksanakan sekolah, masyarakat tidak akan tahu keberadaan kami. Dengan tampil ruang publik seperti Royal Plaza, maka siswa kami bisa lebih percaya diri menampilkan kreativitas dan inovasi mereka," ujarnya saat diwawancarai oleh awak media sela-sela kegiatan berlangsung di Royal Plaza, Surabaya, Jumat (13/12/2024) sore.
Sari menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan seluruh siswa kelas 12, dengan total 123 desainer dan 65 model yange menampilkan enam tema busana diantaranya adalah colorful, kimono, flower 3D, black and white, denim beige white, dan smoothies.
"Makna tema le festive ini diranfang sebagai perayaan hasil kerja keras para siswa kami. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk menunjukkan kualitas, seperti lulusan SMKN 6 Surabaya kami yang telah sukses membuka usaha dengan omzet hingga 30 juta perbulan," jelas Sari sapaan akrabnya.
"Kita juga ingin membuktikan bahwa lulusan kami mampu bersaing dan mempunyai masa depan cerah di industri kreatif," tambahnya.
Sari pun berharap adanya perhatian lebih dari Dinas Pendidikan terkait penyediaan fasilitas untuk kegiatan serupa ditahun berikutnya.
"Kami ingin anak-anak lebih sering difasilitasi tampil diruang publik, agar potensi mereka lebih dikenal," harap dia.
Tak hanya itu, Ia pun mengapresiasi pihak royal Plaza yang telah memberikan dukungan berupa tempat tanpa biaya atau gratis.
"Walau dengan dana minim, kami tetap berusaha agar anak-anak bisa mengeksplorasi kemampuan mereka dan tampil maksimal," imbuh Sari.
Sementara, Waka Kesiswaan SMKN 6 Surabaya Istiowati mengatakan bahwa proses pembuatan busana ini membutugkan waktu sekitar tiga bulan. Menurutnya, dimulai dari mendesain, membuat pola, hingga hasil akhir yang siap dipamerkan ke publik.
"Hasil karya yang dipamerkan saat ini oleh siswa kami, ini membutuhkan waktu tiga bulan, yang dimulai dari mendesain, membuat pola, hingga hasil akhir dipamerkan," terang Istiowati.
Istiowati mengungkapkan bahwa inspirasi desain siswa ini berasal dari berbagai sumber baik berita, tren dunia busana, dan pembelajaran merdeka belajar.
"Kami melakukan ini agar siswa dapat bekerja sesuai dengan passion mereka, menjadi desainer atau model yang kompeten dan mampu menghapi dunia kerja dengan percaya diri," ucapnya.
Ia pun menjelaskan bahwa kami terus mendorong praktik mulai kelas 10 untuk membangun kompetensi secara bertahap, sehingga saat lulus siswa pun sudah mahir secara profesional dibidangnya.
"Namun, tantangan yang dihadapi adalah memupuk minat siswa yang tidak mempunyai dasar busana dari jenjang sebelumnya," ungkap Waka Kesiswaan SMKN 6 Surabaya.
Menurut Istiowati, salah satu kendala adalah siswa yang masuk tanpa minat yang sesuai, sehingga sekolah perlu memberikan perhatian khusus untuk menumbuhkan semangat mereka.
"Namun, siswa yang memiliki kompetensi sejak awal dapat menghasilkan karya berkualitat tinggi. Bahkan, melampaui ekspektasi," tukas Waka Kesiswaan Istiowati.
"Ujian akhir diikuti seluruh siswa kelas 12 tanpa seleksi, sebagai bagian dari evaluasi kompetensi di sekolah kejuruan. Adanya peningkatan peminat yang terus terjadi, SMKN 6 Surabaya mampu mencetak lebih banyak lulusan berkualitas yang siap bersaing di dunia kreatif," pungkasnya.
Editor : Ipl