Haornas: Perkuat Ekosistem Olahraga Nasional dan Menyalakan Spirit Persatuan

Reporter : Ipl
Dwi Cahyo Kartiko, Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa. (Foto : Istimewa)

Oleh : Dwi Cahyo Kartiko *)

Hari Olahraga Nasional (Haornas) kembali diperingati sebagai momentum penting bagi bangsa ini untuk merefleksikan sekaligus memperkuat spirit memajukan olahraga nasional. Tahun 2025, Haornas yang ke-42 mengusung tema “Olahraga Satukan Kita.” 

Baca juga: Unitomo Kukuhkan Prof. Sri Utami Ady sebagai Guru Besar ke-6 FEB

Tema yang sarat makna, yang mengingatkan bahwa olahraga bukan hanya tentang kemenangan, atau kekalahan, melainkan tentang sportivitas, persaudaraan, dan persatuan bangsa.Tema yang mendorong semua untuk kembali bersatu pasca-gejolak atau turbulensi kebangsaan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Semangat Haornas harus benar-benar dijadikan sebagai pendorong menjadikan olahraga sebagai budaya nasional. Olahraga bukan aktivitas musiman, mingguan atau tahunan, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup yang menyatukan, dan menyehatkan jiwa-raga masyarakat. 

Saya memantau, ‘girah’ membangun olahraga belakangan ini terasa adem-adem ayem. Ada beberapa faktor sebenarnya, diantaranya karena situasi politik yang tak menentu, dan komimen yang perlahan layu. 

Olahraga lebih sering menjadi euforia sesaat ketika kompetisi, dan kontingen juara, lalu seketika senyam tatkala kompetisi usai. Padahaln, spirit dan komitmen sejatinya harus ditanamkan dan dirawat terus menerus. 

Bahkan, agenda strategis seperti Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) dan Desain Olahraga Daerah (DOD), seakan-akan tenggelam dari meja pembahasan para stakholder dan sunyi dari diskusi publik. 

Padahal, dua kebijakan ini adalah peta jalan yang dirancang agar pembangunan olahraga tidak terjebak pada seremoni atau prestasi instan, tetapi bergerak dalam sistem yang berkelanjutan.

Momentum Haornas ini seharusnya menjadi titik balik. Saatnya bangsa ini menyalakan kembali semangat membudayakan olahraga, bukan hanya untuk prestasi, melainkan juga untuk kesehatan masyarakat, pembangunan karakter, dan sebagai perekat persatuan.

Dalam UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan ditegaskan bahwa olahraga memiliki tujuan yang jauh melampaui aspek fisik semata. 

Olahraga diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, membangun watak dan kepribadian yang tangguh, menumbuhkan disiplin serta sportivitas, sekaligus memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. 

Lebih jauh lagi, olahraga juga sebagai instrumen yang memperkuat ketahanan nasional serta mengangkat harkat dan martabat bangsa di kancah internasional. Olahraga merupakan strategi pembangunan bangsa yang menyeluruh.

DBON, sebagaimana tertuang dalam Perpres No. 86 Tahun 2021, disusun untuk jangka panjang hingga 2045. Ia mengatur arah pembangunan olahraga Indonesia, mulai dari olahraga pendidikan, olahraga masyarakat, hingga olahraga prestasi. 

Semangatnya jelas: membangun ekosistem olahraga nasional yang sehat, terukur, dan berkelanjutan. Implementasi kebijakan ini diperkuat dengan Desain Olahraga Daerah (DOD). 

Tujuannya, agar pembangunan olahraga di tingkat lokal tidak berjalan sporadis, melainkan terintegrasi dengan target nasional. Jika DBON adalah cetak biru nasional, maka DOD adalah fondasi lokal yang memastikan kebijakan ini optimal.

Namun, desain tanpa implementasi ibarat rumah megah di atas kertas. Di sinilah tantangan kita sekarang. Bagaimana menjadikan kebijakan olahraga bukan sekadar dokumen, melainkan gerakan nyata di sekolah, kampus, hingga desa-desa.

Baca juga: Guru besar Beserta Sivitas Akademika dan Alumni UNESA Serukan Kawal Demokrasi, Menjaga NKRI

Relevansi NCCI

Salah satu aspek penting dalam gerakan memajukan olahraga nasional adalah olahraga pendidikan. Lingkungan pendidikan, khususnya perguruan tinggi, adalah lahan subur bagi pengembangan talenta olahraga. 

Sayangnya, hingga kini Indonesia belum memiliki liga mahasiswa nasional yang terstruktur dan berkesinambungan. Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) memang sudah ada, tetapi format antar-provinsi bukan antar-perguruan tinggi. 

Pomnas belum mampu mewadahi potensi mahasiswa secara langsung mewakili perguruan tinggi di berbagai daerah. Akibatnya, pembinaan talenta di level universitas sering tercecer. 

Di titik inilah gagasan National Collegiate Championship Indonesia (NCCI) menjadi sangat penting dan relevan. NCCI yang sudah dibahas Kemenpora, Kemendiktisaintek, sejumlah perguruan tinggi beberapa waktu lalu ini dirancang sebagai kompetisi olahraga antar-perguruan tinggi di Indonesia. 

Formatnya bukan kontingen daerah, melainkan representasi perguruan tinggi. Dengan begitu, kampus-kampus, baik unggulan maupun non-unggulan, bisa ikut serta dalam sistem kompetisi nasional yang reguler, efisien, dan transparan.

Bayangkan, jika NCCI nanti direalisasikan, mahasiswa tak hanya mengasah prestasi akademik, tetapi juga bisa berkembang sebagai atlet melalui atmosfer kompetisi yang sehat.

Liga ini bisa menjadi arena pembibitan, melengkapi peran Pomnas, bahkan menjadi kelanjutan dari Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (Pomprov) yang sudah mulai digelar di beberapa daerah, termasuk Jawa Timur.

Baca juga: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Hadiri Pengukuhan Kepala Lembaga Administrasi Negara Prof Adi Suryanto

NCCI bisa mengadopsi sistem National Collegiate Athletic Association (NCAA) di Amerika Serikat, yang terbukti melahirkan atlet kelas dunia sekaligus memperkuat budaya olahraga di kampus. 

Jika NCAA bisa menjadi ikon olahraga di Amerika, mengapa Indonesia tidak bisa membangun NCCI sebagai wadah lahirnya bintang olahraga masa depan?

Lebih jauh lagi, keberadaan NCCI akan menghidupkan kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, organisasi olahraga, hingga masyarakat. Kampus tidak lagi sekadar menara gading, tetapi menjadi bagian penting dalam ekosistem olahraga nasional yang berdampak.

Akhirnya, Haornas 2025 adalah pengingat untuk kembali memperteguh komitmen memajukan olahraga sebagai perekat persatuan. 

Saatnya menyalakan semangat yang lebih kuat, membudayakan olahraga di masyarakat, menguatkan pembinaan di sekolah dan kampus, menghidupkan kompetisi berkelanjutan, serta menjadikan kebijakan olahraga sebagai gerakan nyata di masyarakat.

Dengan begitu, olahraga tidak lagi sekadar soal keringat dan prestasi, tetapi menjadi bahasa universal yang menyatukan bangsa. 

Bangsa yang kuat lahir dari masyarakat dengan jiwa dan raga yang sehat. Bangsa yang besar adalah yang mampu menjadikan olahraga sebagai nilai, solidaritas, persatuan, dan kemajuan. Salam olahraga! (*)

*) Dwi Cahyo Kartiko, Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa

Editor : Ipl

PEMERINTAHAN
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru