KABARHIT.COM - Dalam tradisi Jawa, setiap rumah besar membutuhkan pamong, sosok yang menengahi, menenangkan, dan merawat kebersamaan ketika penghuninya berselisih. Rumah besar bernama GMNI di Jawa Timur sedang membutuhkan pamong itu. Kami menulis dari Tuban, dari tanah yang akrab dengan pabrik semen, proyek energi, dan nelayan pesisir, tempat kita belajar bahwa pembangunan tanpa kebersamaan hanya melahirkan jarak antara yang kuat dan yang lemah.
Menjelang pemilihan kepengurusan PA GMNI Jawa Timur periode 2026/2031, tulisan ini mencoba melakukan dua hal. Pertama, otokritik yang jujur terhadap rumah kita sendiri. Kedua, menimbang dua nama, Tri Prakoso, S.H., M.H.P. dan Dra. Sri Rahayu.
Otokritik: Ketika Pamong Tidak Hadir
Izinkan kami berterus terang sebagai sesama alumni. Menurut pengamatan kami, PA GMNI Jatim belum memiliki program kerja yang jelas. Kegiatan memang ada, tetapi sulit menemukan peta kerja yang terukur: apa sasaran, siapa penanggung jawab, bagaimana hasilnya dievaluasi. Akibatnya, citra yang tertinggal di benak banyak alumni dan kader cenderung negatif: organisasi yang ramai di acara seremoni tetapi sepi dalam kerja.
Lebih mengkhawatirkan, GMNI di Jawa Timur sedang mengalami perpecahan, dan menurut pengamatan kami kondisi ini kurang mendapat tanggapan dari PA GMNI Jatim. Kisruh Konferda GMNI Jatim di Nganjuk menjadi contoh yang kami ikuti dengan prihatin. Kami tidak berkepentingan menilai siapa benar dan siapa salah di antara para pihak. Yang kami pertanyakan adalah ketiadaan sikap menengahi dari lembaga yang semestinya menjadi "orang tua" bagi organisasi mahasiswa itu. Alumni bukan hakim, tetapi alumni punya tanggung jawab moral untuk mempertemukan kader-kader yang berselisih. Diam di tengah kisruh sama dengan membiarkan luka melebar.
Satu persoalan lagi bersifat mendasar: PA GMNI belum memiliki sekretariat bersama. Organisasi tanpa rumah fisik akan sulit menjaga arsip, memusatkan administrasi, menerima kader, dan menjadi tempat bertemu lintas kelompok. Sekretariat bersama bukan sekadar bangunan. Ia simbol bahwa rumah ini nyata dan terbuka bagi semua.
Kami mengakui bahwa pengamatan ini bisa dikoreksi. Justru itulah semangat Karl Popper dalam The Open Society and Its Enemies: gagasan, termasuk penilaian kami, harus terbuka untuk dibantah oleh fakta. Jika ada program yang sudah berjalan atau upaya mediasi yang belum kami ketahui, sampaikanlah secara terbuka. Organisasi yang sehat tidak alergi terhadap kritik, ia memeriksanya.
Menengahi Adalah Pekerjaan Intelektual dan Moral
Menengahi sering dianggap sikap lemah. Padahal ia memerlukan ketegasan tentang prinsip dan kelenturan tentang cara. Popper menekankan bahwa perselisihan dalam masyarakat terbuka diselesaikan lewat argumen dan prosedur yang disepakati, bukan lewat kekuatan atau pengucilan. Steven Pinker, dalam Enlightenment Now, menunjukkan bahwa kemajuan bertumpu pada nalar dan kerja sama, sementara tribalisme, yakni kecenderungan memandang dunia sebagai "kubu kita" melawan "kubu mereka", adalah musuh utama akal sehat.
Bagi organisasi yang terbelah, dua prinsip itu menuntut hal praktis: forum dialog yang netral, aturan main yang disepakati, dan pemimpin yang dipercaya oleh pihak-pihak berbeda. Inilah tugas ketua PA GMNI Jatim ke depan.
Tri Prakoso: Pemikir, Pengusaha, dan Dekat dengan Santri
Tri Prakoso adalah praktisi hukum, pengusaha sektor energi, aktivis, dan penulis opini asal Jawa Timur. Ia alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember dan Universitas Airlangga, berlatar ilmu hukum, ekonomi, dan geopolitik pertahanan. Akar gerakannya ada di GMNI Jember dan barisan aktivis Pro Demokrasi '98. Di dunia usaha ia menjabat Wakil Ketua Umum Migas Kadin Jawa Timur dan Sekretaris Hiswana Migas Jatim Balinus, jaringan yang membentang dari Banten hingga Nusa Tenggara Timur. Ia juga aktif dalam program kolaborasi sektor migas, pemerintah daerah, dan kegiatan lingkungan.
Sebagai sarjana ekonomi, kami tertarik pada bidang yang ia kuasai. Energi adalah urusan kedaulatan: siapa yang mengendalikan pasokan, distribusi, dan harga energi turut menentukan seberapa mandiri sebuah bangsa. Pengalaman di sektor migas memberinya pemahaman langsung tentang rantai pasok, regulasi, dan tarik-menarik kepentingan, bekal penting untuk membaca geopolitik dan ekonomi bagi kader Jawa Timur. Tulisan-tulisannya tentang kritik ekonomi neoliberal, business judgment rule pada kasus korporasi BUMN, polemik sistem Pilkada, hingga mistisisme kekuasaan Jawa dan teosentrisme menunjukkan kebiasaan berargumen di ruang terbuka. Menurut profil yang beredar, ia berkomitmen pada Pancasila 1 Juni 1945 dan Marhaenisme.
Kami juga mencatat kedekatannya dengan kalangan santri. Jawa Timur adalah rumah bagi tradisi pesantren yang kuat, dan pemimpin yang akrab dengan dunia itu dapat menyambungkan nasionalisme dengan religiusitas. Dalam organisasi yang terbelah, kemampuan menjembatani kelompok berbeda adalah modal berharga, asalkan dibuktikan lewat kerja, bukan dijadikan simbol.
Sri Rahayu: Ketelitian, Integritas, dan Semeleh
Dra. Sri Rahayu adalah politisi senior dan alumni GMNI Malang yang dikenal tekun, teliti, dan berintegritas. Ia lulusan IKIP Negeri (UM) Malang dan berkiprah di ranah legislatif daerah maupun nasional. Pada Pemilu 2024, ia terpilih sebagai caleg DPR RI dari dapil Jawa Timur VI dengan perolehan sekitar 111 ribu suara, tetapi mundur menjelang pelantikan, dan kursi itu beralih kepada Romy Soekarno, cucu Bung Karno.
Dalam khazanah Jawa, sikap melepaskan hak yang sah disebut semeleh. Ora kabeh manungso gelem nglakoni iku. Alasan di balik keputusan itu bisa dibaca beragam, dan ini adalah pembacaan kami. Tetapi bagi organisasi yang dilanda perebutan pengaruh, figur yang pernah melepas kursi besar membawa pesan kuat tentang menomorduakan ego. Peran sekretaris menuntut sikap serupa: bekerja di balik layar, menata administrasi, dan menjaga ketertiban. Tugas pertamanya sudah jelas, yakni mewujudkan sekretariat bersama yang selama ini belum ada.
Ujian Seratus Hari
Kami tidak ingin dua kandidat ini hanya dinilai dari profil. Kami mengusulkan ujian yang dapat diperiksa semua alumni. Pertama, terbitkan program kerja tertulis dengan sasaran, penanggung jawab, dan ukuran keberhasilan. Kedua, wujudkan sekretariat bersama sebagai pusat tata kelola dan arsip. Ketiga, inisiasi forum mediasi netral bagi kader dan kelompok yang berselisih, termasuk terkait kisruh di tingkat daerah, dengan prinsip tidak memihak. Keempat, rintis distribusi kader ke berbagai sektor, seperti pemerintahan, usaha, koperasi, dan profesi, supaya kaderisasi berjalan seiring penguatan ekonomi kader dan tidak terpaku pada satu ruang. Kelima, terapkan aturan benturan kepentingan yang jelas agar kedekatan dengan dunia usaha dan politik tidak mengaburkan kemandirian organisasi.
Penutup
Tri Prakoso dan Sri Rahayu dari rekam jejak yang ada, kami melihat kombinasi yang menjanjikan: Tri Prakoso dengan gagasan, jaringan ekonomi, dan kedekatan dengan santri; juga Sri Rahayu dengan ketelitian, integritas, dan keikhlasan. tema "Gotong Royong Mewujudkan PA GMNI yang Berdikari secara Ekonomi dan Berdaulat secara Politik", hanya akan bermakna jika dapat diuji dan dibuktikan.
Kami tidak sedang mengkultuskan siapa pun. Rumah besar ini membutuhkan pamong yang mau hadir ketika penghuninya berselisih. Semoga lewat kepengurusan yang baru, PA GMNI Jatim kembali menjadi rumah yang menengahi, bukan yang menjauhi.
Editor : Tri Karyono