KABARHIT, SURABAYA - Begitu banyak peninggalan warisan seni tradisional dari leluhur di bumi Nusantara ini, banyak pula yang masih memiliki rasa peduli untuk melestarikan budaya yang beragam, dan bahkan sudah banyak terbentuk beberapa komunitas pegiat dibidang pelestarian seni dan budaya
Untuk memulai sebuah atraksi atau pementasan seni budaya pasti membutuhkan beberapa persyaratan atau uba rampe(perlengkapan) yang perlu dipersiapkan dengan matang, harapannya agar pementasan bisa berjalan dengan baik dan lancar
Tak terkecuali untuk jenis pementasan atraksi Bantengan ada juga yang menyebut Jathilan, banyak kita lihat di wilayah pulau Jawa, kesenian tradisional ini juga memerlukan perangkat yang tidak boleh terlupakan, selain peralatan musik utama seperti gamelan, kendang dan kuda lumping serta Bantengan (barongan) adalah Dupa atau Kemenyan
Harum wangi dari asap dupa disekitar lokasi ini, sebenarnya hanya untuk membantu lebih memudahkan kita konsentrasi berdoa memohon pada sang pencipta, agar atraksi berjalan lancar tidak ada gangguan apapun, Itu saja
Hal itu terjadi karena kepekaan rasa pemain sangat bagus, fokus dan kosentrasi dalam menari, didukung dengan suasana wewangian yang semerbak, mereka larut dalam sebuah tarian Bantengan yang dia lakukan itu
Seorang seniman tari di Surabaya, Tri Broto Wibisono mengatakan bahwa, seorang penari itu tubuhnya sudah menjadi Ga Ndayani atau menjadi lunglai tak berdaya jika telah mendengar alunan musik gamelan
Bukan Ndadi atau kesurupan, itu merupakan keenakan tubuh atau kenyamanan rasa menari yang didorong dari dalam diri, untuk melakukan serangkaian ragam gerak tari sesuai dengan getaran jiwa dan musik tariannya lanjutnya
Pk
Editor : Deni