SIDOARJO, KABARHIT.COM - Tim Gabungan masih melakukan evakuasi korban yang tertimbun keruntuhan bangunan gedung Pondok Pesantren Al Khozyni di Buduran, Kabupaten Sidoarjo masih berlanjut.
Pantauan wartawan Kabarhit di lokasi, tim gabungan ini memberikan data santri yang masih terjebak dibawah puing-puing sekitar 91 orang.
Sebanyak 379 personel SAR dari berbagai instansi maupun lembaga. Diantaranya adalah Basarnas, BNPB Jawa Timur, BNPB Sidoarjo, BNPB Surabaya, Dinas PU SDA, Tagana, TNI, dan polri. Tim tersebut dikerahkan dengan sistem kerja bergantian guna menjaga stamina tubuh tim evakuasi tersebut.
Tim gabungan telah menyiapkan alat berat, namun penggunaan masih ditunda karena kekhawatiran getaran dapat memperburuk kondisi keruntuhan tersebut.
Kasubdit Pengerahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Frizer menyampaikan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan korban akibat keruntuhan gedung bangunan ini terus dilakukan oleh tim gabungan. Menurutnya, tim telah menemukan 8 orang korban dalam kondisi meninggal dunia.
"Ada 8 orang korban ditemukan di area yang disebut sebagai titik hitam. Istilah ini digunakan untuk korban yang sudahah menunjukkan tanda-tanda kematian, seperti kaku dan tidak adanya respon dari denyut jantung atau pernapasan," ujarnya saat konferensi pers berlangsung di Ponpes Al Khoziny Putri, Sidoarjo, Rabu (1/10/2025) siang.
"Posisi 8 orang korban ini berada di tertindih kolom dalam bangunan. Posisinya tidak bisa kami evakuasi karena persiapan di lantai dasar," tambahnya.
Frizer mengungkapkan bahwa proses evakuasi korban ini terkendala, karena posisi mereka terjepit dibawah tepatnya lantai 1. Ia menyebut, tim terus melakukan upaya khusus untuk mengangkat puing-puing agar korban bisa dievakuasi.
"Sementara, tim evakuasi ini berhasil mengidentifikasi 7 orang yang masih hidup. Para korban ini berada di ruangan terpisah yang diberi label titik merah, karena masih memberikan respon meski komunikasi tidak jelas. Ini bisa sebut responsif," sebut dia.
Ia juga menjelaskan bahwa dari tujuh korban yang responsif itu bahkan sempat berkomunikasi dengan pihak keluarga melalui telepon sesaat setelah gempa terjadi.
"Dia bilang anak saya masih bisa telpon, setelah kejadiannya bilang selamat. Tetapi posisinya enggak tahu ada dimana, ternyata dia ada disini," kata Frizer, menguntip kesaksian keluarga korban .
Frizer menyoroti, bahaya penurunan beban yang terus terjadi dioaksi terutama area A1.
"Semula, terjadi penurunan sekitar 15 cm di tempat korban dan pagi turun lagi menjadi 10 cm. Penurunan ini menyebabkan kompresi atau himpitan pada korban semakin kuat, teruagam bagi korban yang berada di lantai dasar," ungkapnya.
"Pasti semakin turun, kan ini posisinya dia, korban ini ada di antara lantai dasar. Otomatis begitu himpitan turun, apa yang terjadi? Kompresi semakin kuat," jelas Frizer.
Saat ditanya tentang identitas korban, Ia pun belum dapat mengumumkan nama-nama mereka karena tim belum mendapatkan izin langsung dari pihak keluarga untuk mempublikasikan nama.
"Tim juga tengah mengupayakan pembuatan terowongan (tunneling) dengan diameter tidak lebih dari 70 cm untuk mencapai korban yang masih terperangkap. Pengeboran ini dilakukan sekitar 7 meter dari titik awal untuk mendekati pusat keruntuhan gedung tersebut," pungkasnya.
Editor : Ipl