BI: Ketidakpastian Global Tekan Ekonomi Dunia, Stabilitas Inflasi Jatim Tetap Terjaga

Reporter : Deni
Kepala Perwakilan BI Jatim Ibrahim memberikan keterangan saat Media Briefing BI OJK LPS Kemenkeu 22 Juni 2026 Surabaya

SURABAYA, KABARHIT.COM – Sinergi antar-lembaga sektor keuangan terus diperkuat dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Hal ini disampaikan dalam forum media briefing yang menghadirkan empat otoritas, yakni Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Jawa Timur, Ibrahim Mengatakan
masing-masing lembaga memaparkan kebijakan terbaru dari pusat yang ditransmisikan ke daerah, khususnya Jawa Timur. Bank Indonesia menyoroti meningkatnya tensi geopolitik global yang berdampak pada terganggunya pasokan energi dunia dan mendorong kenaikan harga minyak.

Baca juga: Ekonomi Jawa tumbuh 5,79% yoy, PMI manufaktur ekspansi, UMKM kopi kakao teh naik kelas

Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) turut memberi tekanan terhadap perekonomian global. Kondisi ini bahkan diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun, dengan potensi kenaikan lanjutan.

“Dampak dari kondisi global tersebut tidak hanya mendorong inflasi, tetapi juga menahan laju pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya sekitar 3 persen,” ungkap Ibrahim, usai acara Media Brefing 2026 bersama awak media, Senin, (22/06/2026)

Menghadapi situasi itu, Bank Indonesia menyiapkan lima bauran kebijakan utama, yakni kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, serta ekonomi hijau. Dari lima instrumen tersebut, kebijakan moneter difokuskan untuk menjaga stabilitas, sementara empat lainnya diarahkan untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas rata-rata global pascapandemi. BI menegaskan bahwa keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan eksternal.

Baca juga: Sinergi BI dan Pemprov Jatim Perkuat Stabilitas Harga dan Transformasi Digital 2025

Sementara itu, untuk wilayah Jawa Timur, dampak kondisi global dinilai memiliki dua sisi, baik positif maupun negatif. Meski terdapat tekanan harga akibat faktor global, inflasi di daerah diyakini masih terkendali.

“Inflasi di Jawa Timur dan nasional secara umum masih terjaga di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” jelasnya.

Stabilitas inflasi tersebut menjadi indikator penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Untuk itu, BI menegaskan tidak bekerja sendiri, melainkan bersinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna memastikan kestabilan harga tetap terjaga.

Baca juga: BI Jatim : Ekonomi Jatim Tetap Tumbuh Positif 4,6-5,4% (yoy) di Triwulan IV 2023

Dengan kondisi tersebut, Jawa Timur diharapkan tetap mampu mempertahankan kinerja ekonominya sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

 

Editor : Deni

PEMERINTAHAN
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru