Komisi D: Tidak Fair Kader Kesehatan Surabaya di Putus Sepihak

avatar kabarhit.com

KABARHIT, SURABAYA Komisi D DPRD Kota Surabaya terus mencermati gejolak Kader Kesehatan Surabaya yang kini sedang menuntut hak nya, karena pemutusan sepihak dan tidak lagi dibayar insentif nya dampak dari pembentukan Kader Surabaya Hebat.

Anggota Komisi D, Hari Santosa berharap, sebaiknya untuk saat ini jangan ada pemutusan secara langsung yang mendadak terhadap para kader kesehatan, karena kader kesehatan sudah sangat lama membantu Pemkot Surabaya sehingga harus kita akui kader kesehatan sejatinya orang yang memiliki semangat untuk Kota Surabaya.

Yang Kedua, kata Hari Santosa, dirinya mengusulkan ke Pemkot Surabaya justru yang harus dilakan Pemkot adalah penambahan pegawai di Puskesmas, baik itu penambahan dokternya, tenaga kesehatan, atau tenaga administrasi di Puskesmas.

Gunanya untuk membantu kader kesehatan yang selama ini kesulitan dalam melaksanakan tugasnya dengan fasilitas online. Ketiga, saya sepakat ada pengurangan ketika kader mempunyai jabatan ganda misalnya, kader kesehatan juga menjabat Ketua Paud, Ketua Kader Lansia, ini memang dipisahkan, ujarnya di Surabaya, Rabu (02/03/22).

Hari Santosa juga menambahkan, untuk pembayaran insentif kader kesehatan sebenarnya sudah digedok di APBD Kota Surabaya Tahun 2022. Jadi ada hak insentif para kader kesehatan, namun faktanya yang terjadi tidak diberikan insentif ke kader kesehatan.

Ini yang perlu ada penjelasan secara terbuka oleh Walikota Surabaya Eri Cahyadi, jangan sampai Walikota memiliki program tanpa penjelasan secara terbuka, tegas politisi Partai Nasdem Kota Surabaya ini.

Dirinya kembali mengatakan, munculnya program baru Walikota Surabaya yaitu Kader Surabaya Hebat, seharusnya disosialisasikan terlebih dahulu ke masyarakat. Karena, ketika sosialisasi program Pemkot Surabaya sampai ke kader kesehatan, sudah pasti tidak ada gejolak seperti yang terjadi sekarang ini.

Yang menjadi masalah kan, sudah insentif kader kesehatan belum dibayar, tiba-tiba keluar kebijakan baru dengan membentuk Kader Surabaya Hebat, yang membuat para kader kesehatan tidak lagi masuk dalam bagian tersebut dan tidak diberi insentifnya, pungkasnya.(**)

and

Editor : Deni