Ust. Hasan: Pesantren Adalah Pilar Peradaban Bangsa dan Dunia Islam, Bukan Hanya Isu Regional

Reporter : Ipl
Ustadz HM. Hasan Ubaidillah saat khutbah Jumat di Masjid Al Akbar Surabaya.

SURABAYA, KABARHIT.COM — Pondok Pesantren merupakan pilar utama peradaban bangsa Indonesia. Tanpa kontribusi luar biasa dari para kiai dan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada Indonesia. 

Hal ini disampaikan Ustadz HM. Hasan Ubaidillah saat khutbah Jumat di Masjid Al Akbar Surabaya, Jumat (17/10/2025) siang. 

Baca juga: Wagub Emil Hadiri Puncak Peringatan 2 Abad Ponpes Tambakberas Jombang

"Dunia pesantren akhir-akhir ini sedang menghadapi ujian besar menjelang hari santri nasional," ujarnya. 

Ustadz Hasan Ubaidillah menjelaskan bahwa ujian tersedia dari berbagai isu, mulai dari tragedi ambruknya mushola Ponpes Al Khoziny hingga gempuran narasi negatif dan menyudutkan pondok pesantren luar biasa dari berbagai media baik media sosial maupun media mainstream. 

"Narasi - narasi negatif di media, Termasuk salah satu stasiun televisi nasional, dinilai sangat menyakiti hati para santri, kiai, dan pesantren. Tuntutan ini agar media meminta maaf secara langsung ke pengasuh Ponpes Lirboyo terutama KH. Anwar Mansur itu merupakan sebuah keharusan, kewajaran, dan kelaziman," ujarnya. 

Ust. Hasan menyampaikan bahwa kontribusi dunia pesantren tidak hanya bersifat regional, tetapi merupakan isu nasional yang memiliki akar sejarah panjang. Ia pun menuturkan, genealogi pesantren dengan para sahabat Rasulullah. 

"Pondok pesantren adalah pilar peradaban bangsa Indonesia, bahkan peradaban dunia Islam," kata Ust. Hasan. 

Baca juga: Trans7 Tidak Pahami Kehidupan Pesantren, Ketua DPC PKB Sidoarjo Desak KPI Beri Sanksi Tegas

Ia pun mengutip kitab-kitab sejarah yang menyebutkan bahwa ketika Rasulullah hijrah ke Madinah pada 22 September 622 Masehi, hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun Masjid Al-Nabawi.

"Di sekitar masjid itulah, para sahabat yang tidak memiliki tempat tinggal dari kalangan muhajirin tingga," jelas dia. 

Ust. Hasan mengungkapkan, yempat penampungan yang disebut ahlus Suffah—dan para penghuninya dikenal sebagai Ahlus Suffah—di situlah cikal bakal pesantren.

Baca juga: Dampingi Menteri PU, Gubernur Khofifah Pastikan Penanganan Korban Musibah Ponpes Al Khoziny Berjalan Maksimal

"Seiring bertambahnya jumlah sahabat, bilik-bilik sederhana (quddu) dibangun di sekitar masjid sebagai asrama. Fungsinya dijadikan asrama para sahabat saat itu, yang setiap harinya sholat, mengaji Al-Qur'an, dan belajar hadis bersama Rasulullah," ungkap dia.

Menurut Ust. Hasan, tradisi ini berlanjut ke generasi tabiin, tabiit tabiin, hingga munculnya madrasah-madrasah saat puncak kejayaan Islam, seperti Nizamiyyah yang didirikan Nizam al-Mulk. 

"Inilah yang terus berlangsung hingga para Wali Songo menyebarkan Islam di Nusantara," pungkasnya.

Editor : Ipl

PEMERINTAHAN
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru