KABARHIT, SURABAYA - Relawan Sahabat Imam yang merupakan bentukan legislator Partai Nasdem Surabaya Imam Syafii terus berjibaku perangi wabah Demam Berdarah (DB) dengan melakukan fogging di kawasan perkampungan.
Hari ini Minggu( 30/1/22), Sahabat Imam telah melakukan kegiatan Fogging di wilayah Balai RW 02 Pucang anom timur.Kelurahan Kertajaya Kecamatan Gubeng.
Ketua Sahabat Imam Satria mengatakan, fogging ini dilakukan atas permintaan warga, yang resah terhadap wabah demam berdarah yang menyerang kawasan perkampungan di Surabaya. Seperti yang terjadi terhadap 2 anak di RW 2 wilayah Pucang anom .
Jadi ini permintaan warga yang resah. Dan akibat proses fogging dari Puskesmas yang rumit, tambahnya.
Satria menambahkan fogging yang mereka lakukan tidak menggunakan solar, melainkan glaserin. Karena dampaknya berbahaya bagi kesehatan, karena gas yang dikeluarkan mengandung racun, ungkapnya.
Sementara itu, Ketua RW02 Kelurahan Kertajaya, Suparmi mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada Sahabat Imam Syafii yang telah melakukan fogging dilingkungan nya.
Ada 6 RT di wilayah RW02 yang semuanya telah disemprot fogging oleh Sahabat Imam Syafii, kegiatan ini sangat berarti bagi lingkungan kami karena selain membantu basmi jentik nyamuk, juga membuat lingkungan lebih sehat, ungkapnya.
Suparmi berharap, kedepannya kegiatan fogging ini bisa rutin kontinu karena sangat bermanfaat sekali bagi warga, agar warga kami semakin sehat dan terhindar dari penyakit DBD, terutama disaat musim hujan saat ini fogging memang sangat diperlukan.
Saya berharap dua atau tiga bulan sekali sahabat dari Bapak Imam Syafii melakukan fogging di wilayah RW02 Kelurahan Kertajaya ini, pungkasnya.
Turut hadir,Legislator DPRD Surabaya, Imam Syafii menambahkan, kegiatan fogging sangat diperlukan untuk menjaga lingkungan warga bersih, sehat, dan meminimalisir penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Tim kami Sahabat Imam aktif setiap pekan melakukan fogging di rumah-rumah warga, untuk menjaga kebersihan lingkungan, serta membantu membasmi nyamuk ditengah merebaknya DBD, ujarnya.
and
Editor : Deni