SURABAYA, KABARHIT.COM – Pasangan M. Sadam Nur dan M. Fattah Abdurahman sukses merebut gelar juara ganda putra U10 dalam turnamen ITF Junior Widjojo Soejono 2026. Prestasi tersebut terasa istimewa karena keduanya baru pertama kali tampil sebagai pasangan dalam sebuah turnamen.
Pada laga final di Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Jumat (2/10/2026), Sadam/Fattah tampil solid saat menghadapi M. Faeyza Pratama/Abhuyudhaya Gagas. Mereka menuntaskan pertandingan dengan kemenangan dua set langsung, 4-2, 4-0.
Meski baru berduet, Sadam dan Fattah mampu membangun kerja sama dengan cepat. Keduanya terlihat mampu membagi peran, menjaga komunikasi, dan tetap fokus sepanjang pertandingan.
Sadam menyebut pengendalian emosi menjadi salah satu faktor penting di balik kemenangan tersebut. Ia dan Fattah berusaha menjaga suasana permainan tetap positif dengan tidak saling menyalahkan ketika terjadi kesalahan.
“Main tenang, tidak mudah menyalahkan pasangan. Selain itu, kita mengerti peran masing-masing sesuai instruksi pelatih,” ujar Sadam, diamini Fattah.
Bagi Sadam, keberhasilan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah dijalaninya sejak menekuni tenis di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Pengalaman bertanding terus ditambah dengan mengikuti berbagai kejuaraan, termasuk turnamen yang digelar di sejumlah kota di Pulau Jawa.
Coach Riduan, ayah sekaligus pelatih Sadam, mengatakan perkembangan kemampuan sang anak dipantau melalui latihan dan pertandingan. Setiap kompetisi menjadi kesempatan untuk melihat hasil dari proses pembinaan yang telah dilakukan.
“Setiap kali latihan kita lihat perkembangannya. Dari perkembangan itu kemudian kita coba bawa bertanding ke Jawa,” kata Riduan.
Sadam juga bukan pendatang baru di ajang Widjojo Soejono. Pada 2024, ia berhasil finis sebagai runner-up. Pada tahun yang sama, ia kembali mengikuti turnamen di Malang dan berhasil membawa pulang gelar juara.
“Pada 2024 lumayan, bisa juara dua. Kemudian di Malang juga juara satu. Jadi kita lihat terus perkembangannya,” ujarnya.
Kemampuan Sadam tidak terlepas dari program latihan yang dijalankan secara rutin di klub tenis milik keluarganya. Selain Sadam, sejumlah anak lainnya juga mengikuti pembinaan di klub tersebut.
Sepulang sekolah, Sadam biasanya mulai berlatih sekitar pukul 15.00 hingga 16.00. Durasi latihan bertambah pada akhir pekan. Sabtu dan Minggu, ia bisa berada di lapangan sejak pagi hingga sekitar pukul 18.00.
Salah satu materi yang diberikan adalah latihan pukulan menggunakan bola dalam jumlah besar. Metode tersebut digunakan untuk melatih konsistensi sekaligus membangun ketahanan fisik dan teknik pemain.
“Kalau Sabtu dan Minggu dia dari pagi sampai jam enam sore. Dalam sehari bisa menghabiskan sekitar tiga keranjang bola. Jumlahnya bisa ratusan bola,” tutur Riduan.
Menurut Riduan, banyaknya pukulan bukan menjadi tujuan utama. Setiap latihan dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknik, konsistensi permainan, kondisi fisik, dan kesiapan mental.
Materi latihan juga mulai dibuat lebih spesifik ketika kompetisi sudah mendekat. Sekitar dua bulan sebelum pertandingan, latihan mulai diarahkan untuk kebutuhan nomor tunggal maupun ganda.
“Kalau menjelang turnamen, baru saya kasih latihan yang lebih spesifik, termasuk single dan double. Biasanya sekitar dua bulan sebelum pertandingan sudah mulai diarahkan ke sana,” jelasnya.
Riduan juga menekankan pentingnya kemampuan bekerja sama bagi atlet yang turun di nomor ganda. Menurutnya, pemain usia dini perlu belajar berkomunikasi dan memahami peran pasangan di lapangan.
“Kalau ketemu kawan, saya bilang harus saling membantu. Kalau teman salah jangan disalahkan, tetapi saling membantu,” ungkap Riduan.
Prinsip tersebut juga diterapkan ketika Sadam bermain di nomor tunggal. Ia dibiasakan untuk tetap tenang saat menghadapi tekanan dan menjadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi.
“Kalau main single, jangan emosi. Kalau kalah, lihat di mana kesalahannya. Dari kesalahan itu kita perbaiki,” kata Riduan.
Pembinaan sejak usia dini, menurut Riduan, tidak hanya berorientasi pada pencapaian gelar. Kemampuan mengevaluasi kesalahan, menjaga emosi, bangkit setelah kehilangan poin, dan membangun komunikasi juga menjadi bagian dari proses pembentukan atlet.
Sementara itu, Fattah Abdurahman datang dari Banyumas, Jawa Tengah. Petenis yang berstatus unggulan kedelapan tersebut juga mencatat sejumlah pencapaian dalam ITF Junior Widjojo Soejono 2026.
Turnamen ini menjadi salah satu ajang yang memberikan pengalaman berharga bagi Fattah. Dalam tiga tahun terakhir, ia telah tiga kali naik podium di Widjojo Soejono. Secara keseluruhan, koleksi prestasinya telah mencapai 33 medali.
Pada nomor tunggal, Fattah mencatat kemenangan penting di semifinal. Ia berhasil menundukkan pemain unggulan yang sebelumnya belum pernah berhasil dikalahkannya.
“Fattah merasa sangat bangga karena bisa mengalahkan pemain unggulan. Sebelumnya dia belum pernah menang melawan pemain tersebut. Fattah mengalahkan dia di semifinal,” ujar Rofik Kholid, ayah sekaligus pelatih Fattah.
Sementara pada nomor ganda, Fattah mendapat pengalaman baru karena untuk pertama kalinya berpasangan dengan Sadam. Sebelumnya, ia beberapa kali tampil bersama pasangan yang berbeda.
“Untuk turnamen ganda dengan Sadam, ini pertama kali. Sebelumnya Fattah sering berganti pasangan,” kata Rofik.
Kondisi tersebut membuat keduanya harus segera menemukan pola permainan yang cocok. Komunikasi menjadi bagian penting agar karakter permainan masing-masing dapat dipadukan selama pertandingan.
Fattah telah mengenal tenis sejak usia dini. Perjalanan pembinaannya mengikuti tahapan permainan tenis anak, mulai dari red ball, berlanjut ke orange ball, dan kini memasuki tahap green ball.
Rofik menjelaskan setiap tahapan tersebut disesuaikan dengan perkembangan kemampuan anak sehingga proses belajar tenis dapat berlangsung secara bertahap.
“Fattah sudah bermain tenis dari red ball. Kemudian mengikuti orange ball dan sekarang masuk green ball. Jadi kita mengikuti tahapan teknisnya,” ujarnya.
Di luar lapangan tenis, Fattah tercatat sebagai siswa SDIT Muhammadiyah Terpadu Cilongok, Cipete, Banyumas. Perjalanan olahraganya mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungan sekolah.
Kedua orangtuanya juga berusaha mendampingi aktivitas Fattah di tengah kesibukan pekerjaan. Ibunya berprofesi sebagai dokter, sementara sang ayah bekerja sebagai apoteker sekaligus menjadi pelatih tenis Fattah.
“Kami sebagai orangtua sangat mendukung. Meskipun sibuk, kami berusaha mendukung anak semaksimal mungkin,” ujar orangtua Fattah.
Bagi keluarga Fattah, kegiatan olahraga tidak hanya diarahkan untuk mengejar kemenangan. Latihan dan pertandingan juga dipandang sebagai proses untuk membangun disiplin, karakter, serta mental anak dalam menghadapi berbagai situasi.
“Olahraga ini investasi untuk anak. Dari olahraga, pembentukan karakter dan mentalnya juga dapat,” katanya.
Usai menjadi juara ganda putra U10 bersama Sadam, Fattah direncanakan mendapat pengalaman bertanding di level internasional. Sejumlah turnamen di kawasan Asia menjadi salah satu target yang ingin dicoba.
Singapura dan Malaysia menjadi pilihan awal karena lokasinya relatif dekat. Pengalaman bertanding di dua negara tersebut diharapkan dapat membantu Fattah membangun jam terbang sebelum melangkah ke kompetisi yang lebih luas.
“Kalau bisa tahun depan mencoba turnamen di Asia, seperti Singapura. Dari yang dekat dulu, kemudian Malaysia, supaya punya ritme dan pengalaman,” ujarnya.
Gelar juara ganda putra U10 ITF Junior Widjojo Soejono 2026 pun menjadi tambahan pengalaman penting bagi Sadam dan Fattah. Selain prestasi, turnamen tersebut memberi keduanya kesempatan mengasah teknik, komunikasi, mental bertanding, disiplin, serta kemampuan bekerja sama sejak usia dini.
Editor : Tri Karyono