SURABAYA, KABARHIT.COM - Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Puguh Wiji Pamungkas menyampaikan pesan khusus di momentum Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 November. Ia menilai tantangan guru saat ini jauh lebih berat dibanding generasi sebelumnya.
Puguh mengatakan perkembangan teknologi dan kuatnya arus budaya digital membuat pola pikir dan perilaku siswa berubah drastis. Guru, kata dia, kini berhadapan dengan peserta didik generasi Z dan Alfa yang tumbuh dalam lingkungan digital serba cepat.
Baca juga: Peringatan Satu Abad NU, Puguh DPRD Jatim: NU Tetap Jadi Penjaga Moral Bangsa
“Kemajuan teknologi dan penetrasi budaya global membuat perilaku siswa berbeda total dibanding masa lalu,” ujar Puguh dalam keterangan resmi di laman fraksipksjatim.id, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, momentum Hari Guru harus menjadi ruang refleksi bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi.
“Guru harus merespons perubahan zaman dengan upscaling. Ini penting untuk mengurangi disparitas kualitas pendidikan,” jelas Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jatim itu.
Puguh menegaskan bahwa peningkatan kualitas guru tidak bisa dibebankan pada kemauan individu saja.
Baca juga: 357 Warga Kab. Malang Terima KIP Jawara, Puguh DPRD Jatim: Langkah Nyata Transformasi Ekonomi
"Pemprov Jatim disebut perlu terus memperkuat fasilitas pendidikan mulai dari laboratorium, perangkat digital hingga platform pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi," tegasnya.
Selain itu, Puguh juga menyoroti apa yang ia sebut paradoks dalam dunia pendidikan. Menurutnya, guru kerap kesulitan menegakkan disiplin atau membangun karakter siswa karena terhambat regulasi yang dikaitkan dengan isu hak asasi manusia.
“Guru akhirnya memilih fokus pada materi, sementara pembentukan karakter berjalan tidak optimal,” imbuhnya.
Baca juga: Tekan Pengangguran, Puguh DPRD Jatim Apresiasi Pelatihan BLK Singosari di Malang
Puguh menilai kondisi tersebut berpengaruh pada melemahnya fungsi sekolah sebagai ruang pembentukan karakter. Di tengah situasi ini, ia menekankan pentingnya kembali pada filosofi Jawa : guru digugu lan ditiru.
“Ucapan guru adalah petuah, perilakunya teladan. Di era krisis keteladanan, nilai ini justru makin relevan,” tegas dia.
"Kami pun mengajak guru di Jatim untuk terus menjadi penjaga moral, pembimbing karakter, dan teladan nyata bagi para siswa," tutupnya.
Editor : Ipl