KABARHIT.COM - yang selalu terasa ganjil setiap 21 April: kita merayakan R.A. Kartini seolah-olah ia sudah sampai di garis akhir yang bahkan tidak sempat ia sentuh. Kita pakai kebaya, lomba baca puisi, unggah kutipan “Habis Gelap Terbitlah Terang”, lalu merasa sudah cukup progresif untuk itu semua. R.A. Kartini selalu hadir dalam narasi kemenangan, emansipasi, cahaya, dan kebebasan. Namun sejarah menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks. Kartini tidak pernah benar-benar bebas. Ia justru lahir, tumbuh, dan berpikir di dalam struktur yang membatasi dirinya.
Kartini adalah putri dari R.M.A.A. Sosroningrat, seorang bupati dalam sistem kolonial Hindia Belanda. Ibunya, Ngasirah, bukan berasal dari kalangan bangsawan tinggi, sehingga dalam struktur feodal Jawa ia ditempatkan sebagai selir. Dalam tradisi sosial saat itu, status ini bukan hanya soal posisi perempuan, tetapi juga membentuk posisi sosial anak yang dilahirkan. Sejarawan Jean Stewart Taylor dalam kajiannya “Raden Ajeng Kartini” menegaskan bahwa perempuan Jawa pada masa itu hidup dalam sistem patriarki yang ketat, di mana status dan mobilitas mereka sangat dibatasi oleh struktur sosial dan keluarga. (Wikipedia)
Namun, Kartini tidak sepenuhnya tumbuh dalam penolakan. Di sinilah sejarah menjadi tidak hitam-putih. Meski berasal dari ibu non-bangsawan, Kartini tetap mendapat akses pendidikan dan dukungan keluarga. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam sistem feodal yang kaku, terdapat ruang-ruang kecil yang memungkinkan lahirnya kesadaran. Kesadaran itu justru berkembang ketika Kartini mengalami pingitan sebuah praktik yang membatasi perempuan bangsawan untuk keluar dari ruang domestik hingga menikah. Dalam keterasingan itu, Kartini membangun dunia intelektualnya melalui membaca dan menulis surat. Ia tidak hanya berkorespondensi dengan satu orang, tetapi dengan jaringan luas tokoh Eropa Estelle Zeehandelaar, J.H. Abendanon dan istrinya Rosa Abendanon, serta tokoh lain seperti van Kol, Ovink-Soer, hingga Adriani (Esi Kemenbud)
Menurut arsip dan penelitian sejarah, Kartini menulis lebih dari 100 surat kepada berbagai tokoh Eropa, membahas isu pendidikan, budaya, hingga kritik terhadap praktik sosial Jawa (Esi Kemenbud). Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya “curhat”, tetapi membangun argumen intelektual tentang pentingnya pendidikan perempuan dan kebebasan berpikir. Korespondensi dengan Zeehandelaar menjadi titik penting. Dalam buku Kartini Sebuah Biografi karya Sitisoemandari Soeroto, disebutkan bahwa Stella (Zeehandelaar) adalah feminis Eropa yang memperkenalkan gagasan emansipasi modern kepada Kartini. Dari hubungan ini, Kartini mulai melihat bahwa kondisi perempuan bukan takdir, melainkan konstruksi sosial yang bisa diubah (SULUH PEREMPUAN).
Relasi ini kemudian berkembang dengan keluarga Abendanon. Bahkan, J.H. Abendanon menjadi tokoh penting yang mengumpulkan dan menerbitkan surat-surat Kartini dalam buku Door Duisternis tot Licht (1911), yang kemudian dikenal dalam versi Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. (Wikipedia). Lebih jauh, Abendanon juga membuka peluang konkret bagi Kartini: beasiswa untuk melanjutkan studi ke Belanda. Ini adalah momen penting sebuah kesempatan nyata untuk keluar dari keterbatasan struktur sosialnya. Namun kesempatan itu tidak pernah terwujud. Kartini menikah, dan pada tahun 1904 ia wafat setelah melahirkan anak pertamanya, pada usia 25 tahun. Sejarawan Joost Coté dalam Kartini: The Complete Writings 1898–1904 menegaskan bahwa pemikiran Kartini harus dibaca sebagai bagian dari konteks kolonial dan jaringan intelektual global, bukan sekadar simbol lokal emansipasi. Ia adalah “produk dari perjumpaan Timur dan Barat, tradisi dan modernitas” (parafrase dari analisis Coté).
Di titik ini, narasi Kartini sebagai simbol kebebasan menjadi terlalu sederhana. Ia tidak pernah sepenuhnya bebas. Ia lahir dalam struktur feudal, Ia mengalami pingitan, Ia menikah dalam sistem yang ia kritik, Ia tidak sempat merealisasikan peluang pendidikan ke luar negeri Namun justru dari keterbatasan itulah lahir kesadaran yang melampaui zamannya. Maka, merayakan Kartini sebagai simbol kemenangan terasa kurang jujur secara historis. Kartini bukan cerita tentang kebebasan yang selesai, melainkan tentang perjuangan yang terhenti namun meninggalkan jejak pemikiran.
Kartini tidak pernah benar-benar bebas. Ia hanya berhasil menyadari bahwa ia tidak bebas. Dan itu jauh lebih radikal.
Masalahnya, kita keburu mengubahnya jadi simbol yang nyaman. Kita potong kegelisahannya, kita rapikan pikirannya, lalu kita pajang sebagai pahlawan emansipasi. Padahal Kartini lebih mirip pertanyaan yang belum selesai daripada jawaban yang sudah rapi.
Mungkin yang perlu kita akui hari ini bukan bahwa Kartini sudah menang, tapi bahwa ia bahkan belum sempat bertanding sepenuhnya.
Dan kita?
Masih sibuk merayakan garis finish yang tidak pernah ia lewati.
Editor : Deni