SURABAYA, KABARHIT.COM – Menghadapi suhu udara yang semakin tinggi akibat perubahan iklim dan pemanasan global, Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto, mengusulkan penerapan mist cooling system sebagai solusi inovatif untuk menurunkan suhu lingkungan sekaligus membantu pengendalian banjir.
Menurut Achmad, cuaca panas ekstrem yang belakangan terjadi di berbagai daerah, termasuk Surabaya, mulai berdampak pada kenyamanan masyarakat hingga aktivitas ekonomi. Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Baca juga: Wali Kota dan DPRD Sepakati Perda Pertanggungjawaban APBD 2025
“Panas ekstrem seperti sekarang ini jangan sampai membuat aktivitas masyarakat menurun. Kita harus mulai memikirkan solusi yang bisa diterapkan secara nyata di Surabaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mist cooling system merupakan sistem penyemprotan air bertekanan tinggi yang menghasilkan kabut halus (mist) untuk menurunkan suhu di ruang terbuka. Teknologi ini dinilai efektif menciptakan kenyamanan di kawasan publik yang memiliki mobilitas tinggi.
Achmad mengusulkan agar penerapan awal dilakukan di titik-titik strategis seperti Balai Kota Surabaya, Jalan Tunjungan, kawasan Kota Lama, pusat bisnis, destinasi wisata, taman kota, serta ruang publik lainnya.
“Bisa dimulai dari kawasan percontohan seperti Balai Kota, Tunjungan, dan Kota Lama. Dengan begitu masyarakat tetap nyaman beraktivitas meski cuaca sedang sangat panas,” katanya.
Ia menambahkan, konsep serupa telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk China, sehingga Surabaya memiliki peluang besar untuk mengadopsinya dengan penyesuaian kondisi lokal.
Lebih lanjut, Achmad mendorong agar sistem tersebut diintegrasikan dengan pengelolaan air hujan. Air hujan yang selama ini langsung mengalir ke drainase dapat ditampung melalui reservoir, diolah, lalu dimanfaatkan kembali sebagai sumber air saat musim kemarau.
Baca juga: Paripurna DPRD Surabaya, PSI Sepakat APBD 2025 Disahkan dengan Sejumlah Catatan
“Air hujan jangan sampai terbuang percuma atau justru menyebabkan genangan. Harus bisa ditampung dan dimanfaatkan kembali,” jelasnya.
Selain membantu konservasi air, penggunaan kabut air juga dinilai mampu menekan polusi udara. Partikel air dapat mengikat debu sehingga kualitas udara meningkat, sekaligus menurunkan suhu lingkungan beberapa derajat.
“Harapannya bukan hanya suhu yang lebih sejuk, tapi kualitas udara juga lebih bersih sehingga masyarakat semakin nyaman di ruang terbuka,” ungkapnya.
Achmad berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat mengkaji usulan ini secara komprehensif sebagai bagian dari inovasi pembangunan kota yang adaptif terhadap perubahan iklim. Ia menegaskan, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus menciptakan ruang publik yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan.
Baca juga: Komunikasi DPRD-OPD Disorot, Bang Jo Tekankan Optimalisasi Pelayanan Publik
Jika diterapkan secara bertahap dan terintegrasi, Surabaya berpotensi menjadi salah satu kota pelopor di Indonesia dalam penerapan teknologi pendingin ruang terbuka yang berkelanjutan.
Di sisi lain, ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim, mulai dari penghijauan, peningkatan ruang terbuka hijau, optimalisasi pengelolaan air hujan, hingga penerapan teknologi ramah lingkungan.
Dengan langkah tersebut, Surabaya diharapkan semakin siap menghadapi tantangan cuaca ekstrem di masa depan sekaligus tetap menjadi kota yang nyaman dihuni dan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Editor : Deni Noel