Dosen Unesa Andik Yulianto Ajak Mahasiswa Mengkaji Puisi di Kebun Binatang, Terapkan Deep Learning Kontekstual

Proses menulis kreatif puisi setelah mengamati Satwa di Kebun Binatang Surabaya. (Foto: Ipul/Istimewa)
Proses menulis kreatif puisi setelah mengamati Satwa di Kebun Binatang Surabaya. (Foto: Ipul/Istimewa)

SURABAYA, KABARHIT.COM - Suasana belajar di dalam kelas mungkin sudah biasa bagi mahasiswa. Namun, pengalaman berbeda dirasakan oleh mahasiswa/i Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat mengikuti pembelajaran di luar kelas atau outing class.

Berlokasi di Kebun Binatang Surabaya, mahasiswa sastra Indonesia diajak membuat dan mengkaji puisi dengan pendekatan deep learning di tengah rimbunnya flora dan beragam fauna. Deep Learning ini menghadirkan suasana yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermakna. 

Proses Mahasiswa Unesa sedang mengamati Satwa di Kebun Binatang Surabaya. (Foto: Ful/Istimewa)Proses Mahasiswa Unesa sedang mengamati Satwa di Kebun Binatang Surabaya. (Foto: Ful/Istimewa)

Dosen pengampu mata kuliah Kajian Puisi Andik Yulianto mengatakan outing class tersebut merupakan implementasi konsep deep learning. Ia menekankan pemaknaan, pengalaman langsung, serta proses belajar tanpa paksaan. 

"Deep Learning ini mengutamakan makna dan pengalaman. Mahasiswa kami tidak hanya menerima teori, tetapi merasakan langsung proses belajar secara kontekstual dan menyenangkan," ujar Andik sapaan akrabnya, saat ditemui wartawan Kabarhit di Surabaya, Senin (15/12/2025).

Andik menjelaskan, pembelajaran tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas. Menurutnya, lingkungan seperti kebun binatang, pantai, pengunungan, hingga lembaga ilmu pengetahuan dapat menjadi ruang belajar yang kaya makna. 

"Untuk mata kuliah kajian puisi, kami meminta mahasiswa mengamati fauna, menyerap pengalaman tersebut, lalu menuangkannya ke dalam puisi sebanyak 4-5 bait. Karya itu kemudian dibaca dan dianalisis oleh teman-temannya," jelas Dosen Sastra Indoensia Unesa.

Ia pun menambahkan bahwa proses tersebut membuat pembelajaran tidak sekadar bersifat tekstual, melainkan kontekstual dan berkaitan langsung dengan isu pelestarian alam khusunya fauna yang terancam punah.

"Mahasiswa belajar mengenal keberagaman ciptaan tuhan, menumbuhkan rasa cinta terhadap hewan dan lingkungan sekaligus membangun kesadaran pelestarian alam," tambahnya. 

Andik menilai pembelajaran deep learning di luar kelas ini memberikan pengalaman sensorik yang lebih kuat dibanding didalam ruangan. 

"Mahasiswa dapat berjalan, mengamati langsung, berinteraksi serta merasakan lingkungan secara utuh. Karena belajar di luar kelas itu menyehatkan, menyenangkan, sekaligus membentuk karakter. Ini sejalan dengan konsep deep learning," imbuh dia. 

Lebih lanjut, Andik juga menyoroti artificial intelligence (AI) yang tidak bisa dihindari, tetapi dikolaborasikan secara jujur dalam proses kreatif menulis. 

"Mahasiswa boleh memanfaatkan AI sebagai pelengkap, tetapi harus jujur. Mereka diminta menuliskan keterangan apakah karya dibuat sendiri, dibantu AI, atau kombinasi keduanya," tegasnya.

Sementara, Mahasiswi Sastra Indonesia kelas 2024A Qori Zimama Haq menilai pembelajaran outing class atau luar kelas memberikan suasana baru yang menyegarkan bagi mahasiswa. 

"Belajar di luar kelas jauh lebih menyenangkan. Tidak terlalu menekan secara akademik, suasananya baru, dan membuat kami lebih mudah beradaptasi," pungkasnya.

Editor : Ipl