BI Bekali Mahasiswa UNAIR Hadapi Risiko Keuangan Digital

SURABAYA, KABARHIT.COM – Bank Indonesia (BI) mendorong mahasiswa agar tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi dan layanan keuangan digital, tetapi juga mampu mengenali serta mengelola berbagai risiko. Kemampuan tersebut dinilai penting di tengah pesatnya transaksi digital yang diikuti munculnya beragam modus penipuan dan rekayasa sosial.

Pesan tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta saat meresmikan Gerai CERDAS PeKA di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Jumat (2/10/2026). Kegiatan itu dihadiri Wakil Rektor Bidang SDM UNAIR Ardianto, Direktur Commercial Banking PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Alexander Dippo Paris Y.S., Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim, serta perwakilan Perbanas, industri perbankan, akademisi, dan mahasiswa.

Filianingsih mengatakan, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan dari sekadar digital savvy menjadi risk savvy. Artinya, kecakapan menggunakan teknologi harus dibarengi kemampuan mengenali potensi risiko dan mengambil keputusan secara lebih hati-hati.

Menurutnya, penipuan digital kerap memanfaatkan kepanikan, kepercayaan, maupun tekanan agar korban segera mengambil keputusan tanpa melakukan verifikasi. Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri untuk tidak terburu-buru ketika melakukan transaksi digital.

“Biasakan berhenti sejenak sebelum bertransaksi, periksa informasi melalui kanal resmi, lindungi data pribadi, dan jangan ragu mengadukan jika menemukan permasalahan,” ujar Filianingsih.

Ia juga mengajak mahasiswa menjadi bagian dari edukasi di lingkungan masing-masing. Pengetahuan mengenai keamanan transaksi dan pelindungan konsumen, kata dia, dapat dibagikan kepada teman, keluarga, maupun komunitas sehingga kampus turut menjadi ruang untuk membangun budaya digital yang kritis dan bertanggung jawab.

Filianingsih menilai keberanian menggunakan kanal pengaduan juga menjadi bagian penting dari keberdayaan konsumen. Menurutnya, konsumen tidak perlu merasa takut atau malu ketika menghadapi persoalan dalam penggunaan layanan keuangan.

“Mengetahui kanal pengaduan dan berani melapor bukan tanda kelemahan. Itu adalah bentuk keberdayaan konsumen,” kata Filianingsih.

Literasi Harus Mengimbangi Pesatnya Digitalisasi
Bank Indonesia terus memperkuat literasi dan keberdayaan konsumen, terutama di kalangan generasi muda. Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan akses terhadap layanan keuangan digital berjalan seiring dengan kemampuan masyarakat memahami produk, menjaga keamanan transaksi, serta mengelola risiko.

“Kecepatan transaksi harus diimbangi dengan kecepatan literasi. Akses tanpa pemahaman dapat menciptakan kerentanan, sementara inovasi tanpa kepercayaan tidak akan berkelanjutan,” jelas Filianingsih.

Tingginya aktivitas transaksi digital menunjukkan pentingnya penguatan literasi tersebut. Hingga Agustus 2026, transaksi QRIS secara kumulatif sejak awal tahun telah mencapai 17,45 miliar transaksi, dengan jumlah pengguna mencapai 69,32 juta dan merchant sebanyak 47,11 juta.

Sementara itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun mencapai 95,69 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan indeks literasi keuangan yang berada di level 73,32 persen.

Data tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan tingkat pemahaman masyarakat. Karena itu, perluasan inklusi keuangan perlu disertai penguatan literasi agar layanan keuangan dapat dimanfaatkan secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Kolaborasi Hadapi Penipuan Digital
Filianingsih juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menghadapi rekayasa sosial dan penipuan digital yang berkembang lintas platform.

Menurutnya, regulator memiliki peran dalam memperkuat kebijakan dan sistem pengamanan. Industri juga perlu memastikan keamanan produk dan layanan sekaligus memberikan perlakuan yang bertanggung jawab kepada konsumen.

Sementara itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memperluas edukasi, sedangkan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dalam setiap aktivitas digital.

Upaya tersebut sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6 Tahun 2026 tentang Pelindungan Konsumen.

“Digitalisasi membuka kesempatan, literasi membangun keberdayaan, dan kolaborasi menjaga kepercayaan,” ungkap Filianingsih.

Gerai CERDAS PeKA Jadi Ruang Edukasi di Kampus
Gerai CERDAS PeKA atau Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia – Peduli, Kenali, Adukan merupakan hasil kolaborasi Bank Indonesia, UNAIR, dan Perbanas.

Gerai tersebut hadir sebagai ruang edukasi sekaligus diskusi untuk mendekatkan pemahaman mengenai pelindungan konsumen dengan lingkungan perguruan tinggi.

Melalui Gerai CERDAS PeKA, mahasiswa dapat memperoleh informasi mengenai produk dan layanan keuangan, mengenali berbagai risiko transaksi digital, serta memahami mekanisme dan kanal pengaduan ketika menghadapi permasalahan.

Mahasiswa juga dapat berdiskusi dan berkonsultasi mengenai layanan keuangan maupun risiko yang muncul dalam transaksi digital. Materi edukasi dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik generasi muda serta diharapkan dapat diperluas melalui jejaring kampus dan komunitas.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK) yang mengusung tiga pendekatan, yakni Peduli, Kenali, dan Adukan.

Peduli berarti membangun kesadaran bahwa keamanan transaksi merupakan tanggung jawab bersama. Kenali berarti membiasakan konsumen memeriksa informasi, memahami produk, dan mengenali risiko. Sedangkan Adukan mendorong konsumen mengetahui serta menggunakan kanal pengaduan yang tepat ketika menghadapi persoalan.

“Literasi yang paling kuat bukan literasi yang hanya diketahui, tetapi literasi yang menjadi kebiasaan dalam mengambil keputusan sehari-hari,” pungkas Filianingsih.

Kehadiran Gerai CERDAS PeKA di lingkungan kampus diharapkan menjadi momentum untuk mengembangkan berbagai inisiatif edukasi dan pelindungan konsumen secara berkelanjutan.

Bank Indonesia ke depan akan terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, asosiasi, dan industri sistem pembayaran untuk memperluas edukasi serta pelindungan konsumen, khususnya bagi generasi muda.

Upaya tersebut diharapkan turut memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital Indonesia yang aman, inklusif, berintegritas, dan terpercaya.

 

Editor : Tri Karyono