Oleh: Defy Firman *)
Ada satu pemandangan yang selalu saya ingat: seorang perempuan muda, energinya seolah tak ada habisnya, berpindah dari satu titik ke titik lain, menyapa rakyat dan kawula muda, mendengar keluh kesah, hingga larut malam. Hari itu, saya mendampingi Rahayu Saraswati Djojohadikusumo turun ke dapil, tidak tanggung-tanggung, 11 titik dalam satu hari. Lelah? Sepertinya tidak ada dalam kamusnya. Yang ada hanyalah semangat untuk melayani.
Baca juga: Mineral Tanah Jarang dan dalam Lanskap Geopolitik Kontemporer
Mungkin inilah yang membedakan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dari banyak politisi lain. Ia tidak sekadar hadir untuk formalitas, melainkan benar-benar mau mendengar. Saya melihat sendiri bagaimana setiap warga merasa dihargai, seakan suara mereka penting dan bermakna. Di era ketika kepercayaan publik terhadap politisi kerap merosot, Rahayu Saraswati menghadirkan warna yang berbeda: politik yang manusiawi.
Sebagai Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (TIDAR), ia membuktikan bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab tanpa batas waktu. Saya dan teman-teman kader TIDAR sering merasakan bagaimana beliau selalu sigap menjawab tantangan, bahkan di tengah malam sekalipun. Tidak hanya untuk kader di seluruh Indonesia, tetapi juga untuk banyak kader TIDAR di luar negeri. Ia membangun kultur komunikasi yang egaliter: tanpa jarak, tanpa sekat.
Di Mojokerto, saya dan rekan-rekan beberapa kali berkesempatan bertemu beliau saat kunjungan kerja sebagai anggota DPR RI. Setiap pertemuan selalu meninggalkan jejak: bahwa seorang pemimpin, meski berasal dari kalangan elit, bisa hadir dengan rendah hati, memberi ruang dialog, dan menyemangati anak-anak muda di daerah untuk terus bergerak.
Dari situ saya belajar, bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kehadiran yang tulus, bukan sekadar simbol. Salah satu momen yang membekas adalah prinsip yang selalu ia tanamkan: setiap anak muda harus diberi peluang untuk maju dan sukses tanpa melihat anak siapa atau berasal dari golongan apa. Yang terpenting adalah integritas dan dedikasi. Pesan ini sederhana, tetapi menjadi modal besar bagi demokrasi yang sehat.
Namun, ujian besar datang ketika fitnah keji diarahkan kepadanya melalui video rekayasa yang sengaja dimainkan buzzer. Alih-alih bertahan dengan segala resiko instabilitas politik, Rahayu Saraswati memilih mundur dari DPR RI. Di sinilah jiwa kesatrianya tampak nyata: berani mengorbankan jabatan demi stabilitas bangsa. Bagaimana pun, tidak banyak politisi yang rela mengambil keputusan semacam itu. Terakhir saya hanya tau keputusan besar tokoh publik seperti itu hanya ada di negara negara maju seperti Korea dan Jepang. Di Indonesia? Ini kali pertamanya: mengundurkan diri dengan kesadaran penuh. Kehormatan yang langka di negeri ini.
Bagi sebagian orang, mundurnya Rahayu Saraswati bisa dianggap sebagai kehilangan besar. Tapi bagi saya, justru di sinilah letak kekuatannya. Keputusan itu menegaskan bahwa perjuangan politik bukan semata-mata soal kursi parlemen. Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sudah lama membuktikan konsistensinya dalam memperjuangkan isu-isu yang sangat penting bagi bangsa.
Baca juga: Premanisme, Stigma, dan Ujian Kedewasaan Kolektif Surabaya
Ia pernah berperan aktif dalam memberantas mafia BBM subsidi di Nusa Tenggara Barat, mengawal lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, hingga mendorong revisi Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Nomor 21 agar penanganan kasus perdagangan manusia lebih tegas dan berpihak pada korban.
Prestasi-prestasi ini bukan hanya catatan politik, tetapi bukti nyata keberpihakan seorang wakil rakyat kepada kelompok yang sering terabaikan. Dari isu perempuan, disabilitas, hingga perdagangan manusia—Rahayu menghadirkan wajah politik yang peduli dan berani melawan arus kepentingan besar.
Di belakangnya, ada puluhan ribu kader TIDAR di seluruh dunia yang solid. Saya percaya, energi kolektif ini akan menjadi kekuatan baru yang memperkuat langkah Rahayu Saraswati ke depan.
Indonesia hari ini membutuhkan role model pemimpin muda seperti Rahayu Saraswati. Sosok yang tidak hanya lahir dari garis keturunan besar, tetapi membuktikan dirinya melalui kerja keras, dedikasi, dan keberanian menghadapi ujian. Sosok yang progresif sekaligus rendah hati, tegas sekaligus penuh empati.
Baca juga: Tepatkah Jabatan Sipil Polri Diatur Dalam PP?
Presiden Prabowo Subianto patut bangga bahwa keponakannya telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang melampaui sekadar nama keluarga. Rahayu Saraswati membuktikan bahwa kepercayaan rakyat bisa diraih dengan ketulusan dan kerja nyata.
Mungkin, ke depan kita masih akan mendengar nama Rahayu Saraswati berkali-kali dalam perjalanan bangsa ini. Bukan lagi sekadar sebagai politisi muda, melainkan sebagai simbol harapan: bahwa politik bisa dijalani dengan integritas, keberanian, dan hati yang tulus untuk rakyat.
Dan bagi saya, yang pernah merasakan langsung dampak kepemimpinannya, satu hal pasti: Indonesia butuh lebih banyak pemimpin muda seperti Rahayu Saraswati.
*) Defy Firman, penulis adalah Ketua Pengurus Cabang Tunas Indonesia Raya Mojokerto
Editor : Ipl