SURABAYA, KABARHIT.COM – Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Mochamad Machmud, menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap penjualan hewan kurban, khususnya sapi, menjelang Hari Raya Iduladha 2026. Ia menekankan bahwa setiap sapi yang masuk ke wilayah Surabaya harus dipastikan dalam kondisi sehat dan layak jual, meskipun berasal dari luar daerah.
“Meskipun sapi itu dari luar daerah, yang penting sehat. Intinya, setiap sapi yang masuk ke Surabaya harus ditelusuri dan diperiksa di tempat penjualan,” ujar Machmud, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, Komisi B DPRD Surabaya telah mengingatkan Dinas Pertanian untuk melakukan pemantauan intensif terhadap penjualan hewan kurban sejak 1 hingga 27 Mei 2026. Langkah ini dinilai penting seiring mulai maraknya lapak penjualan hewan kurban di berbagai titik, baik di pinggir jalan maupun di lingkungan permukiman warga.
“Kami minta Dinas Pertanian segera turun ke lapangan untuk mengecek satu per satu. Saat ini sudah terlihat penjualan hewan kurban mulai ramai, baik di jalan maupun di kampung,” tegasnya.
Machmud juga menekankan perlunya langkah cepat jika ditemukan permasalahan kesehatan pada hewan kurban, agar tidak berdampak pada masyarakat. Ia meminta Dinas Pertanian yang memiliki tenaga dokter hewan untuk aktif melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
“Kalau ada masalah harus segera diatasi. Sapi yang dijual harus benar-benar sesuai standar kesehatan,” tambahnya.
Selain pengawasan kesehatan hewan, Machmud turut menyoroti pengelolaan limbah hasil penyembelihan. Ia menyarankan agar proses penyembelihan, terutama pengelolaan limbah seperti darah dan sisa potongan, dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) guna menjaga kebersihan lingkungan.
“Untuk limbahnya seperti darah dan lainnya, sebaiknya dititipkan di RPH. Dengan begitu, warga bisa menerima daging kurban dalam kondisi bersih dan sudah dikemas,” jelasnya.
Ia menambahkan, fasilitas di RPH dinilai cukup memadai karena mampu melayani proses pemotongan hingga penimbangan daging sesuai kebutuhan masyarakat, tanpa perlu melibatkan panitia dalam jumlah besar.
“Di RPH itu aman, bisa dipotong dan ditimbang sesuai permintaan. Tidak perlu panitia banyak dan tidak menimbulkan keributan,” ujarnya.
Meski demikian, Machmud mengakui bahwa tradisi penyembelihan hewan kurban secara mandiri oleh panitia di lingkungan masyarakat masih menjadi budaya yang kuat, baik di Surabaya maupun di daerah lainnya.
“Memang budaya masyarakat kita masih banyak yang melakukan penyembelihan secara mandiri di lingkungan masing-masing,” pungkasnya.
Editor : Deni