Menghidupkan Semangat Literasi Lewat Menulis yang Seksi

Reporter : Ipl
Kegiatan Pelatihan menulis karya fiksi yang seksi. (Foto: istimewa)

KABARHIT.COM - Suasana SMKN 1 Sawoo berbeda dari hari biasa. Semangat baru menyelimuti sekolah berkat kehadiran Prof. Dr. Anas Ahmadi, S.Pd., M.Pd., dosen dari Universitas Negeri Surabaya. Beliau menjadi narasumber dalam kegiatan literasi dengan materi “Menulis Fiksi yang Seksi.”

Kata seksi di sini tentu tidak dimaksudkan secara harfiah, melainkan bermakna menarik, memikat, dan mampu membuat pembaca betah larut dalam tulisan. Dari awal acara saja, kami sudah merasa tertarik dengan tema yang dibawakan karena jarang sekali ada pembahasan menulis dengan pendekatan semenarik itu. 

Baca juga: Dosen Unesa Andik Yulianto Ajak Mahasiswa Mengkaji Puisi di Kebun Binatang, Terapkan Deep Learning Kontekstual

Sejujurnya, menulis sering dianggap sebagai kegiatan yang sulit, membosankan, atau hanya dikerjakan saat ada tugas dari guru. Namun, melalui penjelasan Prof. Anas, kami disadarkan bahwa menulis sebenarnya adalah kebutuhan dasar manusia untuk menyalurkan ide, perasaan, dan imajinasi. 

Prof. Anas menjelaskan bahwa tulisan fiksi yang seksi adalah tulisan yang mampu memikat hati pembaca nya bahkan hanya membaca dari judulnya saja. 

Salah satu hal menarik yang saya catat dari materi adalah bahwa menulis bukan semata-mata soal bakat, melainkan keterampilan yang bisa diasah melalui latihan terus-menerus. Tidak ada penulis hebat yang langsung mahir dari awal. Semua berawal dari kebiasaan menulis, membaca, lalu memperbaiki dan yang paling penting adalah niat untuk memulai dan menjalankan. 

Prof. Anas juga menekankan, pentingnya membaca sebagai bahan bakar menulis. Semakin banyak kita membaca, semakin kaya pula kosa kata, ide, dan sudut pandang kita.

"Hal ini membuat saya tersadar bahwa literasi bukan hanya soal mampu menulis, tetapi juga bagaimana kita membuka diri untuk belajar dari bacaan yang ada," ujarnya melalui keterangan tertulis terima redaksi, Jumat (26/9/2025).

Ia pun pribadi merasa sangat beruntung bisa mengikuti kegiatan ini. Di tengah rutinitas belajar yang sering berfokus pada jurusan keahlian kami masing-masing, acara literasi seperti ini menjadi ruang segar untuk menyalurkan kreativitas.

Kami diajak untuk melihat menulis fiksi bukan hanya sebagai aktivitas akademik, melainkan sebagai ekspresi diri. Menulis bisa menjadi tempat untuk menuangkan perasaan, mengkritik keadaan, atau bahkan membayangkan dunia yang sama sekali berbeda dengan kenyataan. Dari sinilah, daya imajinasi dan kreativitas kami dilatih agar lebih berani dan terbuka.

Baca juga: Pantai Pudak Blitar Mulai Berbenah, Dosen Unesa Dorong Digitalisasi Wisata

Bahkan, beliau memberi contoh bahwa cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari bisa berubah menjadi karya yang menarik jika ditulis dengan sudut pandang yang tepat. Hal ini membuat saya berpikir ulang: mungkin selama ini banyak pengalaman pribadi yang sebenarnya bisa saya jadikan bahan cerita, tetapi terlewat begitu saja karena tidak pernah mencoba menuliskannya. 

Selain materi yang diberikan, suasana kebersamaan antara siswa dan guru juga membuat acara ini semakin berkesan. Ia pun melihat teman-teman sangat antusias, terutama saat narasumber menyampaikan bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi penulis. Tidak ada tulisan yang sia-sia, karena setiap kata yang kita rangkai bisa berarti sesuatu bagi orang lain.

Hal ini menumbuhkan keyakinan dalam diri bahwa dunia literasi bukan hanya milik siswa jurusan bahasa, melainkan juga milik semua orang, termasuk kami yang belajar di sekolah kejuruan. Menulis bisa menjadi jalan untuk memperkenalkan diri, bahkan untuk menginspirasi orang lain tentang pengalaman di bidang kami masing-masing.

Ia pun berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Literasi harus terus ditumbuhkan sebagai budaya sekolah. Dengan rutin menghadirkan tokoh atau praktisi literasi, kami para siswa akan semakin terbuka wawasannya. Apalagi di era digital saat ini, menulis bisa dilakukan di berbagai platform, dari blog pribadi, media sosial, hingga jurnal atau buku cetak.

Baca juga: Tim PKM UNESA Bekali Santri Darul Fiqhi dengan Tiga Materi Krusial: Finansial, Hukum, dan Anti Kekerasan

Kegiatan literasi bersama Prof. Dr. Anas Ahmadi, hari ini benar-benar membuka mata saya bahwa menulis adalah keterampilan yang sangat penting, menyenangkan, dan bisa membawa banyak manfaat. Menulis fiksi yang seksi, dalam arti menulis yang menarik dan memikat, adalah keterampilan yang bisa dimiliki siapa saja asal ada kemauan untuk belajar.

Saya percaya, jika semangat ini terus dijaga, akan lahir penulis-penulis muda berbakat dari SMKN 1 Sawoo yang mampu menghadirkan karya indah, penuh makna, dan tentu saja menginspirasi banyak orang. Mungkin banyak orang mengenal SMKN 1 Sawoo adalah sekolah pinggiran, sekolah desa, tapi itu tidak akan mematahkan semangat kami, karena kami percaya kami akan bisa bersaing dengan sekolah lain, bahkan di ajang kompetisi sekalipun. 

Bahkan ketika saya mengetik kata demi kata, sehingga terangkai menjadi sebuah tulisan opini ini masih terbayang history hidup Prof. Anas  Ahmadi, yang sangat menginspirasi saya, beliau membuktikan bahwa tak ada yang tidak mungkin, kita bisa memulainya dari hobi, dari langkah kecil, dan yang terpenting kita punya sebuah prinsip dalam mencapai kesuksesan. (*)

*) Rania Khoirun Nisa, Penulis adalah siswi SMKN 1 Sawoo

Editor : Ipl

PEMERINTAHAN
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru