Ratusan Kepala Sekolah dan Guru di Surabaya Ikuti Sosialisasi Penggunaan Gawai bagi Murid

avatar kabarhit.com
Ratusan kepala sekolah dan guru tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), baik negeri maupun swasta se-Kota Surabaya, mengikuti kegiatan sosialisasi penggunaan gawai bagi murid
Ratusan kepala sekolah dan guru tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), baik negeri maupun swasta se-Kota Surabaya, mengikuti kegiatan sosialisasi penggunaan gawai bagi murid

SURABAYA,KABARHIT.COM — Ratusan kepala sekolah dan guru tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), baik negeri maupun swasta se-Kota Surabaya, mengikuti kegiatan sosialisasi penggunaan gawai bagi murid. Kegiatan tersebut digelar di Convention Hall Arif Rahman Hakim, Surabaya, Rabu (14/1/2026).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pentingnya peran orang tua dan pihak sekolah dalam mengawasi penggunaan telepon genggam (HP) pada anak-anak. Menurutnya, penggunaan gawai tanpa pengawasan dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari paparan konten pornografi hingga masuknya paham radikalisme yang berujung pada tindak kekerasan.

Eri mengungkapkan bahwa dirinya pernah berdiskusi dengan Detasemen Khusus (Densus) terkait kasus terorisme yang melibatkan anak usia sekolah. Dari hasil diskusi tersebut, terungkap bahwa sebagian anak yang terpapar paham kekerasan terdeteksi berasal dari Surabaya.

“Saya kemarin bertemu dengan Densus. Salah satu kejadian pengeboman di Jakarta yang dilakukan anak-anak sekolah, itu terdeteksi juga ada di Surabaya. Anak-anak ini belajar menyakiti, bahkan membunuh, dari mana? Dari HP,” ujar Eri.

Menurut Eri, salah satu akar persoalan tersebut adalah kurangnya komunikasi dan pengawasan dari orang tua. Kesibukan bekerja membuat sebagian orang tua memberikan HP kepada anak tanpa pendampingan yang memadai.

“Orang tuanya sibuk bekerja, anaknya dipegangi HP tanpa pengawasan. Akhirnya anak belajar kekerasan dan menyakiti temannya,” jelasnya.

Selain radikalisme, Eri juga menyoroti tingginya akses anak-anak terhadap konten pornografi melalui gawai. Berdasarkan hasil pemantauan, penggunaan konten pornografi pada HP anak dinilai cukup tinggi dan memprihatinkan.

“Ini bukan hanya anak dari keluarga tidak mampu, tetapi juga dari keluarga menengah ke atas. Artinya, kasih sayang orang tua tergadaikan oleh HP,” tegasnya.

Eri pun mengingatkan agar gawai dimanfaatkan sebagai sarana yang membawa kemaslahatan, bukan mudarat. Namun, hal tersebut harus diiringi dengan pengawasan rutin dan komunikasi yang intens antara orang tua dan anak.

Sebagai langkah konkret, Wali Kota meminta Dinas Pendidikan Surabaya untuk mengumpulkan orang tua siswa sejak kelas 1 sekolah dasar. Para orang tua akan diberikan edukasi mengenai cara memeriksa penggunaan HP anak, termasuk riwayat akses dan konten yang dibuka.

“Tidak semua orang tua tahu cara mengecek HP anaknya. Ini yang akan kami ajarkan,” ujarnya.

Di lingkungan sekolah, Eri menegaskan kebijakan pembatasan penggunaan HP. Siswa diperbolehkan membawa HP, namun harus disimpan di loker dan hanya boleh digunakan untuk keperluan pembelajaran digital atas instruksi guru.

“Jika tidak dibutuhkan, HP tidak boleh digunakan. Guru juga harus memberi contoh dengan tidak menggunakan HP di kelas,” katanya.

Menurutnya, pembentukan karakter dan disiplin anak sangat dipengaruhi oleh keteladanan orang dewasa di sekitarnya.

Pemkot Surabaya juga menyiapkan skema pembinaan bagi anak-anak yang kedapatan mengakses konten negatif. Pembinaan tersebut akan melibatkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), mulai dari pemberian peringatan bertahap hingga pembinaan karakter di shelter pendidikan.

“Jika kita tidak mulai hari ini, maka kita sendiri yang menghancurkan masa depan anak-anak bangsa,” tegas Eri.

Selain itu, Pemkot Surabaya berencana membentuk Kampung Pancasila dengan menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai upaya memperkuat karakter dan interaksi sosial anak.

“Sekarang anak-anak bermain gim yang berisi kekerasan. Dulu kita bermain permainan yang menyatukan. Ini yang harus kita kembalikan,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Eri menekankan pentingnya keseimbangan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia dalam membentuk karakter anak.

“Jika orang tua hanya melahirkan tetapi tidak menjaga dan mengawasi, jangan salahkan anaknya. Masa depan Surabaya ada di tangan anak-anak kita hari ini,” pungkasnya.

Sementara itu, perwakilan Komite Maryam SD Islam, Ayu Intan Mustika Ratna, menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan sosialisasi penggunaan gawai bagi murid. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk membangun kesadaran penggunaan teknologi secara bijak.

“Gawai harus dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan pengembangan diri, bukan sekadar hiburan yang berpotensi menimbulkan dampak negatif,” ujarnya.

Ia berharap melalui sosialisasi ini, murid dapat memahami batasan, etika, dan tanggung jawab dalam menggunakan gawai. Peran orang tua dan guru dinilai sangat penting dalam mendampingi serta mengawasi penggunaan gawai agar anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara digital dan berkarakter posit

Editor : Deni