JAKARTA, KABARHIT.COM — Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI diwarnai momen menarik saat Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menyoroti deretan gelar akademik yang disandang senator asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.H., S.H.I., M.E.I., Kamis (15/1/2026).
Perhatian pimpinan sidang tertuju pada gelar S.H.I. dan M.E.I. yang dinilai tidak lazim dan mencerminkan lintasan akademik lintas disiplin. Dalam forum resmi tersebut, Sultan secara terbuka meminta penjelasan mengenai latar belakang gelar akademik yang melekat pada senator yang akrab disapa Ning Lia itu.
“Yang belum jelas dari pimpinan ini gelar S.H.I. dan M.E.I. Nanti diperjelas, Bu. Kata teman-teman, diperjelas,” ujar Sultan dari kursi pimpinan sidang.
Menanggapi hal tersebut, Lia Istifhama menjelaskan bahwa capaian akademiknya merupakan hasil perjalanan pendidikan yang ditempuh sejak jenjang sarjana dengan pola yang tidak umum.
“Saya waktu S1 kuliah di tiga tempat. Setelah itu melanjutkan magister ekonomi Islam (M.E.I.) dan doktoral ekonomi Islam,” ujar Lia di hadapan sidang.
Ia mengungkapkan, sejak menempuh pendidikan sarjana, dirinya tercatat kuliah hampir bersamaan di tiga perguruan tinggi berbeda. Lia diterima di Program Studi Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), yang kini dikenal sebagai Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Pada waktu yang hampir bersamaan, ia juga menempuh pendidikan Sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), yang saat itu masih berstatus Institut Agama Islam Negeri (IAIN).
Selain itu, pada malam hari, Lia mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Taruna Surabaya pada Program Studi Hukum Islam hingga meraih gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I.).
Ketekunan tersebut membuat Lia mengantongi latar belakang akademik lintas disiplin sejak usia muda. Di sela aktivitas kuliah, ia juga diketahui bekerja sebagai pengajar kursus privat.
Salah satu rekan kuliahnya di Unair, Hery Prasetyo, membenarkan kiprah akademik Lia. Ia mengaku satu angkatan dengan Lia di Program Studi Sosiologi Unair pada 2002.
“Kalau tidak salah, kami angkatan 2002 di Unair. Yang saya ingat, Lia sangat aktif di Sosiologi,” ujar Hery, yang kini menempuh pendidikan doktoral di University of Sydney, Australia.
Menurut Hery, latar belakang Lia sebagai warga Nahdliyin dengan kepedulian terhadap isu ekonomi mikro, masyarakat miskin perkotaan, dan kelompok marginal membuatnya menonjol dalam diskusi akademik.
“Beberapa kali kami kuliah lapangan, dan dalam banyak isu justru saya banyak belajar dari Lia,” katanya.
Hery menilai, kekuatan utama Lia bukan semata pada banyaknya gelar akademik, melainkan pada kemampuannya mengintegrasikan pendekatan multidisiplin dalam menjalankan peran sebagai wakil rakyat.
“Bukan soal gelar yang banyak, tetapi bagaimana ia mampu mengombinasikan pendekatan akademik itu dalam kerja-kerja legislatif,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Arifulinnuha, rekan kampus Lia di UINSA. Ia mengaku mengetahui langsung aktivitas akademik Lia yang padat sejak masa kuliah.
“Saya tahu bagaimana kesibukan Ning Lia saat kuliah di Fakultas Syariah UINSA. Aktivitasnya sangat tinggi,” ujar Arif.
Menurut Arif, gelar S.H.I. dan M.E.I. yang disandang Lia mencerminkan perjalanan intelektual panjang yang kini menjadi modal penting dalam menjalankan tugas-tugas kebangsaan di lembaga legislatif.
“Gelar itu menjadi bekal dalam kerja-kerja pengabdian di Senayan,” pungkasnya. (Red).
Editor : Ipul