SURABAYA, KABARHIT.COM – Nama Grace Evi Ekawati kian menguat sebagai simbol persatuan lintas etnis di Jawa Timur. Setelah aktif merangkul berbagai komunitas kedaerahan, kini masyarakat Dayak Kalimantan Tengah memberikan penghormatan tinggi kepada sosok yang akrab disapa Mama Evi tersebut.
Dalam prosesi adat yang berlangsung khidmat di Surabaya, Ketua DPD PSI Surabaya sekaligus Ketua Umum Perbasi Jawa Timur itu resmi dianugerahi gelar kehormatan dari dua suku Dayak terbesar, yakni Ngaju dan Maanyan.
Ketua Panitia Penyelenggara, Thomas A. Tanjung, menyampaikan bahwa penyematan gelar tersebut merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi Mama Evi di bidang sosial yang telah dirasakan luas oleh masyarakat.
“Penyematan ini diberikan karena kontribusi beliau yang luar biasa, khususnya dalam menyatukan berbagai suku dan etnis. Tidak heran jika beliau mendapat julukan ‘Ibu Segala Bangsa’,” ujarnya.
Ia menambahkan, Mama Evi juga dikenal aktif mendorong kegiatan lintas budaya dan agama, seperti halal bihalal, perayaan Paskah, hingga kegiatan kebersamaan lainnya sebagai wujud nyata persatuan dalam keberagaman.
Ketua HWKTS, Kalmante Tibu, menjelaskan bahwa gelar adat yang diberikan memiliki makna filosofis yang mendalam.
Dalam bahasa Dayak Ngaju, sosok ibu disebut Umai atau Indu Ita, sementara dalam bahasa Maanyan dikenal sebagai Ine Takam, yang berarti “Ibu Kita” atau ibu bagi semua orang.
“Makna ini sangat selaras dengan peran beliau sebagai figur pemersatu, sesuai dengan julukan ‘Ibu Segala Bangsa’ yang telah melekat,” ungkapnya.
Menerima penghargaan tersebut, Grace Evi menegaskan bahwa gelar adat ini bukan sekadar simbol, melainkan amanah untuk terus hadir di tengah masyarakat.
“Menjadi pemimpin bukan sekadar angka atau statistik, tetapi bagaimana kita benar-benar menjaga kerukunan dan bisa diterima oleh semua kalangan,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian adat istiadat sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia.
“Tugas saya adalah menjadi perekat dan pendamai. Kelestarian adat, khususnya Dayak, adalah warisan berharga yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.
Dengan dianugerahkannya gelar adat tersebut, diharapkan semangat toleransi, persatuan, dan gotong royong antar-suku di Jawa Timur, khususnya Surabaya, semakin kokoh serta mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Editor : Deni