Upacara HUT ke-81 RI di Kampung Surabaya, Nasionalisme Tumbuh dari Kebersamaan

Budi Leksono memimpin upacara HUT ke-81 RI di kampung Surabaya dengan mengenakan pakaian adat.
Budi Leksono memimpin upacara HUT ke-81 RI di kampung Surabaya dengan mengenakan pakaian adat.

SURABAYA,KABARHIT.COM – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya terlihat dalam upacara besar di pusat kota. Di sejumlah kampung di Surabaya, warga turut merayakannya secara sederhana melalui upacara pengibaran bendera yang berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.

Tanpa panggung megah maupun fasilitas mewah, lapangan kampung menjadi tempat berkumpulnya anak-anak, pemuda, orang tua hingga para sesepuh. Di bawah terik matahari, mereka berdiri bersama untuk memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih.

Anggota DPRD Kota Surabaya H. Budi Leksono, SH, atau yang akrab disapa Buleks, menilai antusiasme warga mengikuti upacara di tingkat kampung menunjukkan bahwa rasa nasionalisme masyarakat masih kuat.

“Semangat kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang mengikuti upacara besar. Warga kampung juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan,” ujar Buleks.

Menurutnya, semangat tersebut terlihat di berbagai kawasan permukiman, termasuk wilayah yang berada di sekitar jalur kereta api maupun bantaran sungai. Antusiasme warga, kata dia, menjadi gambaran kuatnya semangat gotong royong masyarakat Kota Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan.

“Bukti bahwa meski upacara dilaksanakan di kampung, antusiasmenya luar biasa. Mereka rela berada di bawah panas matahari, datang bersama keluarga, kemudian berdiri tertib untuk menghormati bendera Merah Putih,” kata Buleks usai menjadi pembina upacara di Lapangan Zeni TNI AD Jepara, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Anak-anak hingga Lansia Terlibat
Salah satu hal yang membuat perayaan kemerdekaan di tingkat kampung terasa istimewa adalah keterlibatan berbagai lapisan masyarakat.

Anak-anak sekolah mengikuti upacara dengan mengenakan seragam. Sebagian di antaranya bahkan berlatih menghafalkan kata-kata atau pesan perjuangan para pahlawan sebagai cara sederhana untuk mengenalkan nilai perjuangan, Pancasila dan kecintaan terhadap Tanah Air sejak dini.

Sementara itu, para pemuda mengambil peran dalam menyiapkan rangkaian kegiatan serta menggelar berbagai perlombaan. Tokoh masyarakat menjadi penggerak, sedangkan para sesepuh turut menjaga suasana persatuan dan kebersamaan warga.

Buleks menilai keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan semangat nasionalisme.

“Anak-anak harus dikenalkan dengan sejarah dan perjuangan para pahlawan sejak dini. Tidak harus melalui kegiatan yang formal dan kaku. Melalui upacara di kampung, mereka bisa belajar menghormati bendera sekaligus merasakan arti kebersamaan,” jelasnya.

Kehadiran personel TNI di wilayah setempat, termasuk anggota Zeni, juga menambah suasana khidmat. Mereka turut terlibat dalam pelaksanaan upacara dan menjalankan tugas sebagai pemimpin maupun petugas upacara.

Perayaan Kemerdekaan Ikut Gerakkan Ekonomi Warga
Semangat kemerdekaan di kampung juga memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil. Setelah upacara selesai, warga dapat menikmati berbagai makanan dan minuman yang dijajakan masyarakat setempat, mulai dari soto, sate hingga minuman segar.

Keberadaan pedagang tersebut bukan sekadar pelengkap kegiatan. Perayaan yang melibatkan banyak warga juga menjadi momentum untuk menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Ini yang menurut saya menarik. Kemerdekaan harus dirasakan bersama. Bukan hanya dalam bentuk upacara, tetapi juga melalui kebersamaan, interaksi sosial dan bagaimana kegiatan seperti ini bisa ikut menghidupkan ekonomi masyarakat,” tutur Buleks.

Baginya, upacara kemerdekaan di tingkat kampung memiliki makna lebih luas daripada sekadar agenda tahunan. Ketika masyarakat berkumpul, berdiri bersama di bawah Merah Putih, saling menyapa dan bekerja sama, nilai nasionalisme justru tumbuh dari kehidupan sehari-hari.

“Nasionalisme tidak selalu harus diwujudkan dengan kata-kata besar. Semangat itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan kita sendiri,” katanya.

Selain memperingati kemerdekaan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial warga. Masyarakat yang sehari-hari disibukkan dengan aktivitas masing-masing dapat kembali berkumpul, berbincang dan menikmati suasana kebersamaan.

Perbedaan latar belakang maupun lingkungan tempat tinggal pun dapat mencair ketika warga terlibat dalam kegiatan bersama.

Buleks berharap tradisi tersebut terus dipertahankan dan semakin banyak kampung di Surabaya yang menggelar kegiatan serupa.

“Saya berharap semangat ini terus dijaga. Jangan hanya dilakukan saat perayaan kemerdekaan, tetapi semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama bisa menjadi kebiasaan sehari-hari,” pungkasnya.

Dari lapangan-lapangan kecil di kampung, semangat nasionalisme terus dirawat. Bukan melalui kemewahan, melainkan melalui kebersamaan, gotong royong dan kesediaan masyarakat untuk berdiri bersama menghormati Sang Merah Putih.

Sebab, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari gedung-gedung besar, tetapi juga dari kampung-kampung tempat masyarakat masih menjaga persatuan dan semangat kebersamaan.

Editor : Tri Karyono