SURABAYA, KABARHIT.COM-Mei 2025 — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat kolaborasi lintas lembaga demi menjaga stabilitas sektor keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Jawa Timur. Bertempat di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, OJK bersama BI, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Kementerian Keuangan menggelar kegiatan media briefing bertajuk “Memperkuat Pilar Nusantara melalui Sinergi Jawa Timur dalam Menjaga Stabilitas, Menavigasi Tantangan, dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan”.
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, menekankan pentingnya sinergi antara regulator, pemerintah daerah, pelaku industri jasa keuangan, dan masyarakat dalam menghadapi dinamika perekonomian global maupun nasional.
“Kinerja sektor jasa keuangan Jawa Timur menunjukkan tren positif, baik dari sisi perbankan, pasar modal, asuransi, hingga fintech lending. Hal ini menjadi indikator penting bahwa stabilitas sistem keuangan terjaga dan mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah,” ujar Yunita.
Kinerja Solid Sektor Jasa Keuangan Jawa Timur
Per Maret 2025, sektor perbankan Jawa Timur mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 6,37% (yoy) menjadi Rp609 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 2,94% (yoy) menjadi Rp793 triliun. Stabilitas perbankan ditunjukkan dari rasio NPL yang terjaga di angka 3,29% serta CAR yang kuat sebesar 30,43%. Rasio likuiditas juga tetap sehat, dengan AL/DPK mencapai 11,16n AL/NCD sebesar 52,62%.
Di pasar modal, Jawa Timur menjadi penyumbang emiten terbanyak ketiga secara nasional. Jumlah emiten naik dari 38 perusahaan pada 2019 menjadi 58 perusahaan hingga Maret 2025. Total investor pasar modal di Jawa Timur mencapai 1,8 juta SID, berkat edukasi dan sosialisasi yang intensif oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia.
Di sisi perasuransian, total premi mencapai Rp20,83 triliun, tumbuh 1,19% yoy. Asuransi jiwa menyumbang Rp15,89 triliun dan asuransi umum Rp4,93 triliun. Sementara itu, 10 dana pensiun di provinsi ini memiliki aset sebesar Rp4,36 triliun.
Pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 6,11% yoy menjadi Rp47,32 triliun. Fintech lending juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 27,66% menjadi Rp10,03 triliun. Industri modal ventura dan gadai pun masing-masing tumbuh 16,56n 55,03%.
Perluasan Inklusi dan Literasi Keuangan
OJK Jatim juga gencar menjalankan program literasi dan inklusi seperti GENCARKAN, yang telah menjangkau 288.000 peserta. Program Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (K/PMR) dan Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) berhasil mendorong inklusi, dengan simpanan pelajar mencapai Rp4,66 triliun dari 8,77 juta rekening. Program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI) juga terus diperluas untuk memperkuat ekonomi berbasis komunitas.
“Fokus kami adalah memastikan stabilitas sistem keuangan, meningkatkan literasi dan inklusi, serta mendorong inovasi di sektor jasa keuangan. Melalui sinergi dan regulasi yang adaptif, kami yakin dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tegas
Editor : Deni