SURABAYA, KABARHIT.COM – Dinas Pertanian Jawa Timur (Jatim) mencatat serapan pupuk subsidi sepanjang tahun 2025 telah mencapai 90ri total alokasi sekitar 1,8 juta. Jumlah tersebut masih sedikit dibawah Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (eRDKK) yang ditetapkan sebesar 1,88 ton untuk berbagai jenis pupuk mulia dari urea, NPK, NPK Formula hingga pupuk organik.
Dalam pernyataannya, Kepala Dinas Pertanian Jatim Heru Suseno mengatakan perbedaan alokasi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk perubahan kebijakan harga dan penyesuaian kebutuhan di lapangan.
"Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya memang ada perbedaan. Dulu volumenya lebih besar, tapi sekarang harga acuannya juga menyesuaikan kebijakan baru," ujar Heru di Surabaya, Selasa (30/12/2025).
Heru menegaskan bahwa dukungan pemerintah terhadap petani tidak hanya sebatas pupuk subsidi. Bantuan pra-panen hingga pasca-panen terus diberikan, baik oleh kementerian pertanian (Kementan) maupun pemerintah provinsi (Pemprov).
"Untuk pra-panen ada bantuan alat dan mesin pertanian seperti traktor, cultivator, hingga alat pengolah tani. Semua itu untuk mendukung produktivitas petani," jelas dia.
Lebih lanjut, Heru menyampaikan tahap panen dan pacas panen, pemerintah juga menyalurkan bantuan alat seperti corn sheller atau mesin pemipil jagung hingga sarana pendukung mobilisasi hasil panen.
"Intinya, petani tetap kita dampingi dari hulu sampai hilir," ucap Heru.
Dari sisi produksi, ia juga mengungkapkan Jawa Timur kasih menjadi salah satu lumbung pangan nasional. Heru menuturkan bahwa kontribusi produksi beras Jawa timur mencapai sekitar 17% terhadap total produksi nasional. Berdasarkan data dari BPS, produksi beras Jatim pada tahun 2024 mencapai sekitar 6,3 juta ton dan meningkat tahun 2025.
"Produksi tahun 2025 mengalami naik sekitar 13% dibanding tahun 2024. Gabah kering pangan diperkirakan sekitar 12 juta ton, sedangkan gabah kering giling sekitar 10 juta ton," ungkap Kepala Dinas Pertanian Jatim.
Untuk tahun 2026, Kepala Dinas Pertanian Jatim menagertkan luas tanam sekitar 2,35 juta hektare. Namun, target tersebut masih bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi ketersediaan air dan cuaca.
"Kalau air mencukupi, indeks pertanaman (IP) bisa kita dorong naik dari rata-rata 1,95 menjadi 2,1 persen," jelas Heru.
Heru juga menyoroti terkait antisipasi cuaca ekstrem, Pemprov Jatim telah mengingatkan pemerintah kabupaten/kota sejak bulan oktober lalu. Menurutnya, daerah rawan banjir dan kekeringan diminta menyiaptkan langkah mitigasi, termasuk asuransi usaha tani padi (AUTP).
"Asuransi ini ditanggung 80% oleh provinsi dan 20% oleh kabupaten/kota. Selain itu, kami juga mengatur pola tanam dan penggunaan varietas yang tahan kering atau genangan tersebut," pungkasnya.
Editor : Ipl