DPP LDC Dorong Perempuan Disabilitas Jadi Policy Influencer Lewat SHEfluence Bootcamp di Surabaya

SURABAYA, KABARHIT.COM - DPP Lira Disability Care (LDC) menginisiasi program policy influencer for she-abled leaders (Polishe) menggelar kegiatan SHEfluence Bootcamp di ruang Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT (GADISku) Surabaya. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari, mulai tanggal 28-29 Januari 2026. Dan, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan sentra advokasi perempuan, difabel, dan anak (SAPDA) dan Humanis. Sebanyak 15 perempuan disabilitas mengikuti SHEfluence Bootcamp tersebut, yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswi usia produktif. 

Project Leader Polishe Mira Aulia mengatakan SHEfluence Bootcamp ini dirancang untuk memperkuat kapasitas perempuan penyandang disabilitas, agar mampu melakukan advokasi isu disabilitas dan perempuan melalui platform digital.

"Yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bagaimana perempuan penyandang Disabilitas mampu mengolah konten advokasi di dunia digital, khususnya yang berkaitan dengan isu disabilitas dan perempuan," ujarnya saat ditemui wartawan kabarhit.com di Surabaya, Rabu (28/1/2026). 

Mira menuturkan bahwa hari pertama kegiatan difokuskan pada penguatan isu GEDSI (Gender Equality, Disability, dan Social Inclusion) dan advokasi kebijakan. Sementara pada hari kedua, peserta dibekali keterampilan praktis di bidang media digital.

"Mulai dari public speaking di media digital, cara membuat konten yang inklusif dan menarik, pemilihan platform yang tepat hingga etika dalam memproduksi konten," tutur dia.

Menurut Mira, peserta SHEfluence Bootcamp berasal dari beragam kalangan disabilitas, mulai dari disabilitas fisik hingga ganda. "Rentang usia peserta tersebut antara 18-40 tahun., dengan dominasi usia 18-30 tahun," tandasnya.

Ia pun berharap kegiatan ini semakin banyak perempuan penyandang disabilitas, khusunya Jawa Timur yang berani menggunakan ruang digital untuk menyuarakan dan mengadvokasi isu-isu disabilitas. 

"Sudah saatnya perempuan disabilitas berani berbicara tentang kebijakan dan isu-isu yang melekat perempuan, karena mereka adalah kelompok yang memiliki kerentanan berlapis," harapnya. 

Sementara, Influencer disabilitas Fira Fitria, S.E., M.K.P yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya pemahaman isu Gedsi bagi perempuan Disabilitas sejak dini. 

"Isu Disabilitas tidak bisa dilepaskan dari perspektif kesetaraan gender dan inklusi sosial. Apalagi, peserta mayoritas mahasiswa disabilitas, sehingga pemahaman Gedsi harus dibangun sejak awal," jelasnya. 

Influencer Disabilitas asal Tuban juga menyoroti peran strategis perempuan disabilitas sebagai agen perubahan, termasuk di ruang publik dan kepemimpinan. 

"Perempuan disabilitas mengalami triple diskriminasi, mulai dari kerentanan terhadap kekerasan berbasis gender, keterbatasan akses, hingga budaya patriarki. Karena itu, kehadiran mereka di ruang publik dan kepemimpinan menjadi sangat penting," pungkasnya.

Editor : Ipul