SURABAYA, KABARHUT.COM – DPC PDI Perjuangan Surabaya menargetkan pembangunan sekitar 100 titik lubang teba untuk mengurangi volume sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Program tersebut menjadi bagian dari gerakan nasional PDI Perjuangan yang dijadwalkan berlangsung serentak pada 14 November 2026.
Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, Armuji, menjelaskan lubang teba merupakan metode pengolahan sampah organik yang menyerupai biopori. Sampah sisa makanan dan bahan organik rumah tangga akan dimasukkan ke dalam lubang untuk diuraikan secara alami hingga menghasilkan pupuk.
Menurut Armuji, ukuran lubang akan disesuaikan dengan kondisi lahan. Untuk area luas, teba dapat dibuat berukuran 3 x 3 meter dengan kedalaman 3 meter. Sementara di kawasan permukiman padat atau sekitar pasar, ukurannya sekitar 1,5 x 1,5 meter dengan kedalaman 1,5 meter.
Sebanyak 100 titik direncanakan tersebar di berbagai wilayah Surabaya yang memiliki lahan memadai. Khusus di kawasan perkampungan, pengelolaannya akan melibatkan masyarakat setempat.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, turut mendorong Pemkot Surabaya menyediakan komposter dan lubang biopori di setiap RT/RW. Menurutnya, pengolahan sampah dari rumah tangga menjadi langkah penting untuk mengurangi beban TPS dan TPA.
Eri menyebut biaya pembuatan satu lubang biopori relatif murah, berkisar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Lubang tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah makanan menjadi bahan pupuk cair maupun padat. Penggunaan tetes tebu dan eco-enzyme juga disarankan untuk membantu mengurangi bau dan mempercepat penguraian.
Program 100 lubang teba diharapkan memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Namun, keberhasilannya bergantung pada ketersediaan lahan, keterlibatan warga, serta konsistensi pengelolaan agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Editor : Tri Karyono