Dr. Khoirul Anwar : Menilai Pesantren Harus Pakai Kacamata Pesantren, Jangan Kacamata Lembaga Pendidikan Umum

Pengasuh PP Darul Arqom dan Wakil Dekan I FEB Unesa Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, M.EI. (foto: Ful)
Pengasuh PP Darul Arqom dan Wakil Dekan I FEB Unesa Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, M.EI. (foto: Ful)

SURABAYA, KABARHIT.COM — Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arqom Wonocolo Surabaya, Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, M.EI menekankan, pentingnya menggunakan sudut pandang yang tepat atau kacamata pesantren saat menilai lembaga pendidikan berbasis agama. 

Ia pun menilai, penilaian dari sudut pandang lembaga pendidikan umum atau non-pesantren hanya akan menimbulkan kesalahpahaman.

"Ketika kita ingin menilai pesantren, ya harus dari kacamata pesantren. Tidak bisa dari kacamata lembaga pendidikana yang bukan pesantren. Banyak orang sekarang itu menilai pesantren dari kacamata lembaga pendidikan umum, ini tidak akan nyambung," ujar Dr. Khoirul, yang juga menjabat Wakil Dekan I Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Unesa, usai salat Isya di Masjid Al Wahyu, Jumat (17/10/2025) malam.

Menurut Ustadz Khoirul, pesantren adalah tempat santri diajarkan kehidupan secara menyeluruh selama 24 jam. 

"Porsi ajaran non-akademik (soft skill) justru lebih banyak daripada akademik. Pembelajaran non-akademik ini meliputi kemandirian, kesederhanaan, dan rasa tanggung jawab," tegasnya.

Ia pun mencontohkan, kegiatan seperti ro'an (kerja bakti) dan memasak bagi santri putri. Kegiatan ini, kata dia, sering disalahpahami oleh pihak luar sebagai bentuk eksploitasi. 

"Mereka diajari ro'an. Ro'an itu jangan terus dipahami sebagai eksploitasi. Itu kan dari kacamata orang luar," tegas dia.

Dr. Khoirul menambahkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa 80 persen kesuksesan seseorang ditentukan oleh soft skillnya, bukan sekadar nilai IPK atau rapor.

"Poin penting lain adalah adab dan tata krama, yang diyakini sebagai perantara agar ilmu yang didapat menjadikan santri beretika dan berkarakter, sesuai kaidah Al adabu fauqol 'ilmi' (adab jauh di atas ilmu)," jelasnya. 

"Tradisi seperti bersalaman dengan mencium tangan kiai. Ini adalah bagian dari budaya menanamkan tata krama, bukan perbudakan atau diskriminasi seperti yang kerap dinilai oleh non-pesantren," tambahnya. 

Mengenai isu pemberdayaan ekonomi kiai, Ust. Khoirul meluruskan bahwa pandangan yang hanya melihat dari sisi pemberian (amplop). Ia menceritakan hasil penelitiannya tahun 2005 yang menunjukkan banyak kiai memiliki usaha/bisnis sendiri seperti pedagang atau pemilik lahan sawah.

"Jangan dikira ekonomi kiai itu hanya mengandalkan para santri. Kalau hitung-hitung berapa untuk kebutuhan anak santri di pondok pesantren. Contoh, ada SPP tidak sampai satu juta. Tetapi, makannya tiga kali. Dari mana hitung-hitungannya? Sehingga, ada orang katakan itu Kiai kaya dari pemberian santri, itu terlalu mustahil," tutur Dosen Ekonomi Islam Unesa. 

Menjelang Hari Santri, Ust. Khoirul menyerukan agar semua pihak, termasuk pesantren, masyarakat, dan media untuk berintrospeksi. Ia berharap, media bisa memberitakan pesantren secara seimbang, bahkan menyarankan untuk mencoba menjadi santri selama sehari saja. 

"Kami dari pesantren juga menginstrospeksi untuk memperbaiki diri. Media juga harus seperti itu, biar tahu merasakan kehidupan pesantren seperti apa. Sehingga, benar-benar seimbang dalam pemberitaan," pungkasnya.

Editor : Ipl