JAKARTA, KABARHIT.COM November 2025 — Indonesia menutup tahun 2025 dengan ketahanan ekonomi yang kuat di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian global. Stabilitas tersebut dinilai sebagai hasil kerja kolektif seluruh elemen bangsa, terutama melalui sinergi erat antara kebijakan fiskal dan moneter yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan stabilitas.
Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya kemandirian dan kekuatan kolektif dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Ia mengapresiasi Bank Indonesia yang terus menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendorong pertumbuhan melalui koordinasi erat dengan berbagai pengelola ekonomi nasional.
"Kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri dan tidak boleh bergantung pada negara lain. Sekarang saatnya memberikan solusi yang cepat kepada rakyat. Kebijakan harus dirumuskan dengan ketenangan dan dilaksanakan dengan kepercayaan diri," ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya yang juga menegaskan dukungan terhadap tema PTBI 2025: “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan.”
Optimisme Pertumbuhan Ekonomi ke Depan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan prospek ekonomi Indonesia yang tetap positif. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 berada di kisaran 4,7–5,5%, dan meningkat pada tahun 2026–2027 menjadi 4,9–5,7n 5,1–5,9%. Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi domestik, peningkatan investasi, serta ekspor yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi global.
Inflasi diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1%, didukung oleh konsistensi kebijakan moneter dan fiskal, serta penguatan sinergi pengendalian inflasi di pusat dan daerah. Sementara itu, stabilitas eksternal dan sistem keuangan tetap solid, seiring akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan.
Perry juga menyoroti lima tantangan global yang perlu diwaspadai:
Kebijakan tarif Amerika Serikat yang terus berlanjut,
Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia,
Meningkatnya utang pemerintah negara maju dan suku bunga tinggi,
Risiko kerentanan sistem keuangan global,
Maraknya penggunaan aset kripto dan stablecoin swasta.
Sinergi Kebijakan, Kunci Transformasi Ekonomi Nasional
Bank Indonesia menekankan bahwa sinergi kebijakan merupakan prasyarat penting untuk memperkuat transformasi ekonomi. Terdapat lima fokus utama sinergi kebijakan nasional:
Penguatan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,
Pendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan,
Penguatan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan,
Akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan,
Penguatan kerja sama ekonomi bilateral dan regional.
Transformasi sektor riil juga menjadi kunci untuk meningkatkan modal, tenaga kerja, dan produktivitas. Kebijakan industrial diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor prioritas, seperti hilirisasi berbasis sumber daya alam, industri teknologi, serta industri padat karya. Sementara itu, reformasi struktural fokus pada peningkatan iklim investasi, konektivitas infrastruktur, dan penguatan kebijakan perdagangan serta investasi, termasuk optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Bauran Kebijakan BI 2026: Stabilitas Terjaga, Pertumbuhan Didukung
Tahun 2026, bauran kebijakan Bank Indonesia akan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan. Kebijakan moneter akan tetap “pro-stability”, namun tetap memberi ruang bagi dukungan terhadap pertumbuhan (“pro-growth”).
Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran dirancang untuk memperkuat pembiayaan perekonomian, didukung pendalaman pasar uang dan valas melalui kerangka BPPU 2030. BI juga terus memperluas program ekonomi-keuangan inklusif, termasuk UMKM dan ekonomi syariah.
PTBI Jawa Timur 2025: Perkuat Kolaborasi Menuju “Gerbang Baru Nusantara”
Di waktu yang sama, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur juga menggelar PTBI 2025, dihadiri unsur pemerintah provinsi, bupati/wali kota, instansi vertikal, akademisi, perbankan, dan asosiasi dunia usaha.
Provinsi Jawa Timur meraih penghargaan TP2DD Terbaik 2025 Kawasan Jawa–Bali, atas keberhasilan mendorong digitalisasi daerah.
Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, M. Noor Nugroho, menyampaikan bahwa ekonomi Jawa Timur tumbuh solid sebesar 5,22% (yoy) pada triwulan III 2025, menjadikannya kontributor terbesar kedua secara nasional. Pada 2026, pertumbuhan diprakirakan mencapai 4,82–5,69% didorong keyakinan konsumen, penjualan ritel, dan stimulus pemerintah.
Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Jatim, Dr. MHD. Aftabuddin RZ, menekankan pentingnya peran Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional serta simpul utama pertumbuhan kawasan timur Indonesia. Infrastruktur yang terhubung kuat—mulai pelabuhan internasional, bandara, jalan tol, hingga kawasan industri—dinilai membentuk ekosistem ekonomi yang kompetitif.
Bank Indonesia Jatim bersama pemerintah daerah mengusung enam fokus kolaborasi PTBI Jatim 2025:
Akselerasi investasi daerah,
Penguatan industri,
Penguatan UMKM,
Optimalisasi keuangan daerah,
Digitalisasi sistem pembayaran,
Pengendalian inflasi.
Fokus tersebut menjadi langkah strategis untuk mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Editor : Deni