SURABAYA, KABARHIT.COM – Polemik yang melibatkan sejumlah kiai Nahdlatul Ulama (NU) dan berkembang menjadi dua kubu di ruang publik menuai keprihatinan. Konflik tersebut ramai diperbincangkan di media dan media sosial, bahkan diwarnai komentar warganet yang dinilai tidak sopan terhadap para ulama sepuh.
Panglima Nahdliyin Bergerak (Nabrak) Firman Syah Ali menyayangkan sikap sebagian warganet yang dinilainya telah melampaui batas etika dalam menyikapi konflik internal NU.
“Saat ini NU sedang diuji. Beberapa ulama sepuh terlibat konflik yang cukup rumit dan disorot luas oleh warganet, termasuk para influencer,” ujar Firman, yang akrab disapa Cak Firman, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (14/12/2025).
Cak Firman mengaku prihatin setelah membaca dan menyaksikan sejumlah komentar yang dinilai melecehkan para kiai yang terlibat konflik. Bahkan, kata dia, terdapat komentar bernada makian serta pemberian julukan tidak pantas kepada ulama sepuh.
“Ini bukan tradisi NU. Yang memprihatinkan, komentar-komentar tersebut justru datang dari para pemengaruh atau opinion leader yang memiliki banyak pengikut, sehingga berpotensi membentuk opini publik yang keliru,” tegas pendiri Konfederasi Olahraga NU (KONU) itu.
Cak Firman mengajak warga NU, khususnya generasi muda, untuk mengisi ruang digital dengan narasi positif dan konstruktif yang mengarah pada penyelesaian konflik secara damai.
“Mari isi ruang digital dengan masukan yang baik dan solutif bagi pihak-pihak yang bertikai. NU yang kita cintai saat ini membutuhkan resolusi konflik dengan prinsip win-win solution, bukan win-lose solution,” ujar aktivis IPNU era 1990-an tersebut.
Ia pun menegaskan keyakinannya bahwa NU akan tetap kokoh dan mampu melewati konflik yang ada.
“NU didirikan oleh para pewaris genetik dan intelektual Walisongo. Insyaallah NU akan tetap terjaga. Tugas kita yang muda-muda adalah terus mengkaji dan menawarkan solusi terbaik, sambil tetap menjaga adab dan kesopanan kepada para ulama sepuh,” pungkasnya.
Editor : Ipl