SURABAYA, KABARHIT.COM- 23 Januari 2025 – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), anak perusahaan Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP), meluncurkan inovasi digital bertajuk Mechanic Smart Assistant (MSA), sebuah platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk mempercepat proses diagnosis fault code dan event code pada peralatan Rubber Tyred Gantry (RTG), Container Crane (CC), serta Mechanical Equipment (ME).
Peluncuran MSA dilakukan dalam rangkaian acara Expo Inovasi SPTP yang diselenggarakan pada Jumat (24/1) di Lobby Pelindo Place Office Tower, Surabaya. Inovasi TPS ini berhasil menembus jajaran The Best Six Innovation SPTP Group, bersaing dengan 30 nominasi inovasi terbaik dari seluruh entitas di lingkungan SPTP.
MSA dikembangkan sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus meminimalkan potensi kerugian akibat downtime peralatan. Selama ini, mekanik membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 60 menit untuk menelusuri arti kode gangguan melalui buku manual atau basis data yang terpisah. Kondisi tersebut menyebabkan inefisiensi waktu hingga 6,45 jam per bulan, dengan estimasi potensi kerugian mencapai Rp354,6 juta per tahun.
Platform MSA lahir dari pengalaman langsung mekanik di lapangan yang kerap menghadapi berbagai gangguan teknis secara bersamaan. Melalui MSA, mekanik dapat mengakses informasi teknis peralatan secara cepat dan terintegrasi melalui perangkat mobile maupun komputer.
“Mekanik sering mengalami kesulitan dalam mencari arti kode gangguan. Dengan MSA, proses tersebut menjadi jauh lebih cepat dan praktis,” ujar Sukarsono, Leader Shift Group D RTG TPS.
Dengan implementasi MSA, waktu diagnosis gangguan kini dapat dilakukan dalam waktu kurang dari dua menit. Kehadiran platform ini juga dinilai mampu mempercepat learning time mekanik, khususnya generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital. Proses pembelajaran yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih dari enam bulan kini dapat dipangkas menjadi kurang dari tiga bulan.
MSA diproyeksikan menjadi bagian integral dari program transformasi digital TPS, terutama dalam standardisasi proses Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance. TPS telah menyusun roadmap pengembangan MSA dalam empat tahap.
Tahap pertama mencakup implementasi awal pada peralatan RTG dengan fitur chatbot dan basis data terbatas dalam kurun waktu 3–6 bulan. Tahap kedua, yaitu pengembangan produk lengkap, berlangsung selama 6–12 bulan dengan penguatan knowledge base dan peningkatan fitur diagnosis. Tahap ketiga berupa roll out dalam jangka waktu 1–3 tahun untuk ekspansi ke RTG, CC, dan ME dengan dukungan kapasitas server yang lebih besar. Tahap terakhir adalah komersialisasi dalam periode 3–5 tahun untuk implementasi luas di lingkungan Pelindo Group sekaligus membuka potensi bisnis.
Dalam pengembangannya, TPS memperhatikan mitigasi risiko seperti potensi kesalahan interpretasi data, kebutuhan validasi solusi, serta standarisasi knowledge base. Sistem MSA juga dibangun dengan teknologi AI berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG) guna meminimalkan tingkat kesalahan dan meningkatkan akurasi informasi.
Implementasi MSA memberikan berbagai manfaat strategis, antara lain pengurangan downtime peralatan, percepatan proses perbaikan, standarisasi langkah troubleshooting, dokumentasi solusi secara digital, dukungan terhadap Predictive Maintenance, serta peningkatan akurasi dan konsistensi pengambilan keputusan teknis.
Selain mudah direplikasi, MSA juga dinilai berpotensi menjadi model pengembangan teknologi di lingkungan Pelindo Group. Platform ini merupakan hasil kolaborasi antara mekanik dan tenaga ahli IT TPS, dengan tim pengembang yang terdiri dari Aris Setya Yuwana, Dodo Kresno, Zeffry Bagus, Agus Triyono, dan Ikhsan Efendi. MSA dirancang sebagai “pendamping digital” mekanik dalam mempercepat dan mempermudah proses perbaikan peralatan.
Plh. Sekretaris Perusahaan TPS, Adhi Kresna Novianto, menyampaikan bahwa peluncuran MSA merupakan langkah strategis perusahaan dalam mempercepat transformasi digital sekaligus meningkatkan keandalan operasional terminal.
“Selama ini tantangan terbesar dalam perawatan alat adalah lamanya waktu identifikasi kode gangguan. Dengan hadirnya MSA, proses diagnosis yang sebelumnya memakan waktu hingga satu jam kini dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit. Ini memberikan efisiensi yang sangat signifikan bagi kelancaran operasional TPS,” jelasnya.
Ia menambahkan, MSA tidak hanya menjawab kebutuhan teknis di lapangan, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen TPS dalam membangun budaya kerja yang modern, adaptif, dan berbasis teknologi.
“Keberhasilan MSA masuk dalam jajaran The Best Six Innovation SPTP membuktikan bahwa inovasi ini relevan, solutif, dan memiliki potensi pengembangan yang luas. Kami optimistis MSA dapat direplikasi di unit Pelindo Group lainnya serta menjadi model pengembangan teknologi yang mendukung produktivitas dan keselamatan kerja. TPS akan terus mendorong inovasi yang memberikan dampak langsung bagi pelanggan dan pemangku kepentingan,” pungkasnya.
Editor : Deni