SURABAYA, KABARHIT.COM (08/07) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) resmi menuntaskan program peremajaan alat bongkar muat. Kini terminal utama di Pelabuhan Tanjung Perak itu sudah mengoperasikan 4 unit Electric Quay Container Crane atau e-QCC dan 14 unit Electric Rubber Tyred Gantry atau e-RTG.
Seluruh peralatan baru tersebut menggunakan tenaga listrik. Langkah ini jadi bagian dari upaya TPS meningkatkan produktivitas layanan sekaligus mendukung operasional pelabuhan yang lebih ramah lingkungan.
Hal itu disampaikan dalam acara TPS Expose 2026 yang digelar di Surabaya pada Selasa (07/07). Forum ini mempertemukan TPS dengan regulator, perusahaan pelayaran, asosiasi logistik, eksportir, importir, dan pengguna jasa lainnya.
Direktur Utama TPS Wahyu Widodo mengatakan, selesainya peremajaan tidak lepas dari dukungan pelanggan selama masa transisi.
“Kami berterima kasih kepada pengguna jasa atas kesabaran dan kepercayaannya selama proses peremajaan berjalan. Kami paham ada penyesuaian yang dirasakan. Nah, sekarang setelah selesai, ini saatnya TPS memberikan layanan yang lebih baik,” ujar Wahyu.
Ia juga mengapresiasi dukungan dari instansi terkait sehingga proses upgrade bisa berjalan sesuai rencana untuk memperkuat layanan di Tanjung Perak.
Menurut TPS, kehadiran 4 unit e-QCC baru akan membuat penanganan kapal berukuran besar di dermaga jadi lebih cepat. Sementara 14 unit e-RTG baru akan mempercepat pergerakan petikemas di lapangan penumpukan dan membuat pengelolaan yard lebih tertata.
Lebih dari itu, penggunaan alat berbasis listrik ini juga ditujukan untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil dan mengurangi emisi karbon. Program ini sejalan dengan komitmen TPS dan Pelindo Group untuk membangun ekosistem logistik berkelanjutan.
“Peremajaan ini bukan hanya soal kapasitas. Kami ingin TPS bertransformasi jadi terminal yang berkelanjutan. Dengan e-QCC dan e-RTG listrik, pelanggan dapat layanan yang lebih produktif sekaligus ikut menjaga lingkungan,” jelas Senior Manajer Komersial TPS, Bayu Setyadi.
Bayu menyebut, tantangan terbesar adalah menjalankan proyek di tengah operasional terminal yang tidak boleh berhenti. Mulai dari pemasangan, uji coba, integrasi sistem, sampai commissioning dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu pelayanan harian.
TPS juga menyiapkan SDM melalui pelatihan operator, simulasi, dan penyesuaian prosedur kerja agar peralatan baru bisa langsung dipakai secara aman dan optimal.
“Fokus kami bukan hanya merampungkan alat, tapi juga memastikan pelayanan ke pelanggan tetap jalan,” tambahnya.
Dalam diskusi TPS Expose, Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Perak menyoroti pentingnya sinergi mempercepat arus barang, khususnya di Container Freight Station dan layanan SPJM jalur merah.
Bea Cukai juga mengingatkan soal kepatuhan penyampaian Pemberitahuan Kesiapan Barang atau PKB. Keterlambatan PKB bisa membuat jadwal pemeriksaan mundur dan berdampak ke dwelling time.
TPS menyambut baik masukan tersebut dan berkomitmen memperkuat koordinasi dengan Bea Cukai, Karantina, pelayaran, forwarder, dan pemilik barang.
Sejumlah pengguna jasa juga berharap peralatan baru ini langsung berdampak pada percepatan layanan receiving, delivery, serta penanganan petikemas yang butuh pemeriksaan karantina.
“Keberhasilan kami diukur saat pelanggan merasakan manfaatnya. Setelah upgrade ini, prioritas kami adalah menghadirkan pengalaman layanan yang lebih cepat dan efektif,” kata Bayu.
Dengan tambahan alat baru, TPS memproyeksikan throughput terminal akan naik. Untuk itu TPS sudah menyiapkan pengaturan lalu lintas, optimalisasi lapangan, penataan kendaraan, dan penguatan sistem digital.
Sebagai bagian dari Pelindo Group, TPS akan terus melanjutkan transformasi lewat digitalisasi dan budaya pelayanan yang berfokus ke pelanggan.
“Selesainya peremajaan ini baru langkah awal. Dengan fasilitas baru dan kolaborasi semua pihak, TPS siap melayani dengan layanan yang lebih andal dan mendukung logistik nasional,” tutup Bayu.
---
Editor : Deni