S&P Global Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia BBB, Ekonomi 2026 Diproyeksi Tumbuh 5,1%`

Reporter : Deni
S&P Global pertahankan rating Indonesia BBB outlook stabil. Ekonomi 2026 diproyeksi tumbuh 5,1% & pendapatan negara naik 21% di semester I

JAKARTA, KABARHIT.COM - 13 Juli 2026 – Lembaga pemeringkat kredit internasional Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings kembali mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada level BBB dan jangka pendek A-2, dengan prospek stabil.

Keputusan ini menegaskan kepercayaan global terhadap ketahanan ekonomi Indonesia, kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, serta kemampuan pemerintah menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.

Baca juga: Hasil RDK OJK Mei 2026: IHSG Terkoreksi 29% tetapi Jumlah Investor Baru Meningkat 1,26 Juta

Penegasan peringkat tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, meski dunia masih dihadapkan pada tekanan suku bunga global yang tinggi, volatilitas pasar keuangan, tensi geopolitik, serta fluktuasi harga energi dan komoditas.

Menteri Keuangan menyatakan bahwa keputusan S&P merupakan pengakuan atas konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan melanjutkan agenda reformasi struktural.

“Terjaganya peringkat investment grade dengan outlook stabil menunjukkan arah kebijakan ekonomi nasional tetap kredibel. Pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan dikelola secara hati-hati, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

S&P menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung kebijakan makroekonomi yang pruden, stabilitas politik dan kelembagaan, serta rasio utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat serupa.

Lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 5 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan pertumbuhan tahun 2026 diperkirakan sekitar 5,1 persen.

Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia bahkan tumbuh 5,6 persen (year-on-year), didorong kuatnya permintaan domestik dan meningkatnya investasi. Pendapatan per kapita Indonesia juga diperkirakan mencapai sekitar USD 5.200 pada tahun ini.

S&P memberikan penilaian positif terhadap komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sesuai amanat undang-undang. Komitmen ini dinilai sebagai jangkar penting dalam menjaga kredibilitas kebijakan fiskal.

Selain itu, penguatan penerimaan negara turut menjadi sorotan. Pada semester I 2026, pendapatan negara tumbuh sekitar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong perbaikan administrasi perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), khususnya dari sektor sumber daya alam.

Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat kualitas APBN melalui sejumlah langkah, antara lain peningkatan penerimaan pajak dan non-pajak, digitalisasi administrasi perpajakan, optimalisasi sektor tambang dan SDA, peningkatan efektivitas belanja negara, serta pengelolaan pembiayaan dan risiko utang secara efisien.

Baca juga: BI Perkuat Inflasi Lewat GPIPS Nasional

S&P juga menilai peningkatan penerimaan negara dan moderasi biaya pembiayaan akan memperluas ruang fiskal Indonesia.

S&P menilai reformasi struktural yang tengah dijalankan pemerintah berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Kebijakan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam, penguatan tata kelola sektor mineral dan komoditas strategis, serta optimalisasi pengelolaan aset negara dinilai mampu meningkatkan nilai tambah domestik dan kinerja ekspor.

Selain itu, penguatan peran Danantara dan pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan aset negara, memperkuat transparansi, mengurangi kebocoran ekonomi, serta mendukung pembiayaan sektor investasi strategis.

Pemerintah memastikan seluruh agenda reformasi tersebut dijalankan secara transparan, akuntabel, dan disertai komunikasi kebijakan yang konsisten guna menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor.

Di tengah meningkatnya volatilitas global, S&P menilai Bank Indonesia memiliki independensi operasional dan instrumen kebijakan yang memadai untuk menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan. Koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan otoritas sektor keuangan lainnya akan terus diperkuat.

Baca juga: Jelang Idul Fitri 1447 H, Kodaeral IX Bersama Bank Indonesia Fasilitasi Penukaran Uang Baru

Stabilitas nilai tukar, kecukupan cadangan devisa, likuiditas pasar keuangan, serta kepercayaan investor dinilai tetap terjaga. Sistem perbankan Indonesia juga disebut memiliki permodalan yang kuat dengan risiko kontinjensi yang terbatas bagi pemerintah.

Outlook stabil mencerminkan keyakinan S&P bahwa tantangan fiskal dan eksternal yang dihadapi Indonesia bersifat sementara dan akan membaik seiring pemulihan penerimaan negara, stabilisasi harga komoditas, penguatan nilai tukar, serta efektivitas reformasi struktural.

Pemerintah optimistis kombinasi fundamental ekonomi yang kuat, disiplin fiskal, reformasi berkelanjutan, dan koordinasi kebijakan yang solid akan menjaga momentum pertumbuhan serta meningkatkan daya saing nasional.

Penegasan peringkat ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan prospek ekonomi yang solid di kawasan, serta memberikan sinyal positif bagi investor global bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang aman dan menjanjikan dalam jangka panjang.

 

Editor : Deni

PEMERINTAHAN
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru