Kenapa Pengangguran Jatim Didominasi Lulusan SMK? Ini Jawaban Rasiyo

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Rasiyo di Tugu Pahlawan Surabaya.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Rasiyo di Tugu Pahlawan Surabaya.

SURABAYA, KABARHIT.COM - Angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih tergolong tertinggi sebesar 6,78 persen menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur per Agustus 2025. 

Meski, angka tersebut turun tipis dari tahun sebelumnya (2024), masih tergolong tertinggi dibanding lulusan jenjang pendidikan lainnya. 

Hal ini direspon langsung oleh Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Rasiyo mengatakan isu pengangguran masih tergolong tertinggi, terutama kalangan lulusan SMA dan SMK perlu menjadi perhatian serius. Menurutnya, momentum peringatan hari pahlawan ini harus mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam memajukan bangsa. 

"Sebenarnya lulusan SMK sudah dikenali keahlian sesuai jurusan, sehingga peluang terserap di dunia kerja lebih besar. Justru, lulusan SMA yang perlu mendapat perhatian khusus, karena mereka belum memiliki keterampilan spesifik untuk langsung masuk ke dunia kerja," ujar Rasiyo kepada awak media di Surabaya pada Senin (10/11/2025). 

Rasiyo menekankan pentingnya penguatan program link and match antara pendidikan dan dunia usaha maupun industri. Ia pun merekomendasikan untuk mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) bagi lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah. 

"Jawa Timur terdapat 16 BLK yang bisa dimanfaatkan. Lulusan SMA dapat mengambil pelatihan sesuai minat seperti bidang IT, permesinan, dan lainnya," kata Politikus Fraksi Partai Demokrat Jawa Timur. 

"Pelatihan ini tidak berbiaya, hanya perlu mendaftar melalui sekolah untuk kemudian dijadwalkan sesuai kompetensi," tambahnya. 

Selain sektor formal, Rasiyo juga menyebut peluang ekonomi digital sebagai alternatif. "Kerampilan di bidang teknologi dan konten kreator seperti pengelolaan media sosial juga dapat menghasilkan pendapatan jika diarahkan dengan baik," sebutnya. 

Dengan demikian, ia pun berharap pentingnya pendampingan moral dan penguatan karakter generasi muda, terutama di tengah derasnya arus informasi digital. 

"Ya, generasi muda kita sekarang ini tantangannya banyak sekali, kemarin ada misalkan peledakan bom di SMA di Jakarta itu warning bagi kita semuanya. Harus peka terhadap situasi dan kondisi. Makanya melihat konten-konten di HP itu juga harus cermat," pungkasnya.

Editor : Ipl