KONI Jatim Siapkan Deklarasi Atlet Laki-Laki Berani Bercerita Jelang Porprov 2027

Suasana rapat koordinasi di ruang pertemuan Kantor KONI Jawa Timur yang dipimpin Ketua Umum M. Nabil bersama pengurus KONI, FPPI Kota Surabaya, dan perwakilan mitra membahas program kesehatan mental atlet menjelang Porprov Jawa Timur 2027.
Suasana rapat koordinasi di ruang pertemuan Kantor KONI Jawa Timur yang dipimpin Ketua Umum M. Nabil bersama pengurus KONI, FPPI Kota Surabaya, dan perwakilan mitra membahas program kesehatan mental atlet menjelang Porprov Jawa Timur 2027.

SURABAYA,KABARHIT.COM – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur mulai memberi perhatian lebih terhadap kesehatan mental atlet, khususnya atlet laki-laki. Organisasi olahraga tersebut menilai masih banyak atlet yang memilih menyimpan persoalan pribadi maupun tekanan selama menjalani pembinaan dibanding mengungkapkannya kepada orang terdekat.

Ketua Umum KONI Jawa Timur, M. Nabil, mengatakan budaya memendam masalah masih banyak ditemui pada anak laki-laki, termasuk mereka yang berkarier sebagai atlet. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak terhadap perkembangan kemampuan hingga capaian prestasi apabila tidak ditangani dengan baik.

"Fenomena ini masih jarang dibahas. Banyak anak laki-laki ketika menghadapi persoalan justru tidak bercerita kepada orang tua. Dalam dunia olahraga, sosok yang paling dekat dengan mereka adalah pelatih. Kalau semuanya dipendam, tentu akan memengaruhi proses pembinaan dan prestasi," ujar Nabil di Kantor Sekretariat KONI Jawa Timur, Senin (3/8/2026).

Sebagai bentuk komitmen, KONI Jatim tengah menyiapkan deklarasi yang mengajak atlet laki-laki agar lebih terbuka dalam menyampaikan tekanan, keluhan, maupun persoalan yang dihadapi selama menjalani latihan. Melalui gerakan tersebut, pelatih diharapkan tidak hanya berperan sebagai pembina teknik, tetapi juga menjadi tempat yang aman bagi atlet untuk berdiskusi.

Deklarasi itu akan melibatkan pelatih dan atlet dari berbagai cabang olahraga. Langkah tersebut diharapkan mampu membangun budaya komunikasi yang lebih sehat sehingga persoalan psikologis dapat dikenali lebih dini.

Menurut Nabil, tekanan mental dalam dunia olahraga tidak selalu berasal dari tindakan perundungan secara fisik. Beban untuk memenuhi target juara, ekspektasi pelatih, harapan keluarga, hingga tuntutan yang muncul dari diri sendiri juga dapat menjadi sumber tekanan psikologis.

"Bullying bukan hanya soal kekerasan fisik. Target menjadi juara, tuntutan dari pelatih, harapan orang tua, bahkan tekanan dari diri sendiri juga bisa menjadi beban yang memengaruhi kondisi mental atlet," katanya.

Ia menjelaskan, setiap atlet memiliki tantangan psikologis yang berbeda. Atlet pemula umumnya terbebani keinginan untuk meraih prestasi pertama, sedangkan atlet yang telah berulang kali menjadi juara justru menghadapi tekanan lebih besar agar mampu mempertahankan pencapaiannya.

"Atlet yang sudah sering menang biasanya memiliki ekspektasi tinggi untuk terus mempertahankan prestasinya. Sementara atlet yang baru berkembang juga menghadapi tekanan agar bisa segera berprestasi. Dua-duanya membutuhkan perhatian terhadap kesehatan mental," jelasnya.

Program tersebut sejalan dengan kampanye bertajuk "Ayah Bunda, Anak Laki-Lakimu Butuh Kamu" yang digagas DPC Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kota Surabaya bersama RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya. Kampanye ini mengajak keluarga untuk memberikan ruang yang aman bagi anak laki-laki dalam mengekspresikan perasaan tanpa takut mendapat stigma.

Ketua DPC FPPI Kota Surabaya, Nenny W. Gunarso, menilai masih banyak orang tua yang secara tidak sadar membentuk anggapan bahwa anak laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh mengeluh. Padahal, kebiasaan memendam emosi berpotensi memicu gangguan kesehatan mental.

"Masih banyak anak laki-laki yang diajarkan untuk tidak mengadu ketika menghadapi masalah. Padahal rasa kecewa, sedih, atau sakit yang terus dipendam bisa berdampak buruk bagi kondisi psikologis mereka," ujar Nenny.

Sebagai tindak lanjut, KONI Jawa Timur, FPPI Kota Surabaya, dan RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (MoU) sekaligus menggelar deklarasi bersama pada Selasa, 11 Agustus 2026, di Gedung KONI Jawa Timur.

Melalui kolaborasi tersebut, KONI Jatim berharap isu kesehatan mental dapat menjadi bagian penting dalam sistem pembinaan atlet, termasuk sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.

"Kami ingin memastikan tidak ada lagi atlet laki-laki yang menghadapi persoalan sendirian. Pelatih harus menjadi sosok yang bisa dipercaya sehingga setiap masalah dapat segera dicari solusinya tanpa mengganggu perkembangan maupun prestasi atlet," pungkas Nabil.

Editor : Tri Karyono