SURABAYA, KABARHIT.COM – Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026, di Surabaya tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan ekonomi syariah, tetapi juga mendorong generasi muda mengekspresikan nilai-nilai Islam melalui berbagai bentuk kreativitas. Salah satunya diwujudkan melalui lomba kaligrafi kontemporer tingkat SMA dan sederajat. Acara itu berlangsung di Grand City Surabaya. Jumat 25/09/2026
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Agung Budi Laksono, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana syiar Islam sekaligus ruang kreativitas bagi pelajar.
Menurut Agung, kaligrafi tidak sekadar menampilkan tulisan ayat Al-Qur'an, tetapi juga dapat menyampaikan pesan keagamaan melalui bentuk visual yang lebih dekat dengan perkembangan generasi muda.
“Lomba kaligrafi ini kalau kami melihat adalah sebagai syiar juga. Jadi, tidak hanya kalimat dalam Al-Qur'an, ayat-ayat suci Al-Qur'an yang kita baca, tetapi bisa juga kita syiarkan dalam bentuk visual yang lain,” ujar Agung.
Ia menjelaskan, perkembangan zaman membuat penyampaian pesan keagamaan semakin beragam. Karena itu, generasi muda dapat memanfaatkan kreativitas visual untuk menyampaikan nilai dan pesan kepada lingkungan sekitarnya maupun masyarakat secara luas.
“Sekarang perkembangannya sudah banyak berbeda dengan dulu. Tidak hanya membaca, tapi mungkin bisa ada syiar dari gambar, dengan arti-arti tertentu sehingga mempunyai nilai, mempunyai pesan-pesan yang bisa disampaikan oleh para generasi muda bagi kalangannya juga dan bagi masyarakat pada umumnya,” jelasnya.
Agung menambahkan, Festival Syariah beserta berbagai perlombaannya diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ekonomi syariah. Upaya tersebut dinilai penting untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah, khususnya di Jawa Timur.
“Harapannya kegiatan Festival Syariah ini dan juga ada berbagai lomba, ini menggiatkan ataupun mendorong warga ataupun masyarakat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa ataupun di Jawa Timur, bisa saling peduli dengan ekonomi syariah dan juga untuk mengembangkan ekonomi syariah,” ungkapnya.
Untuk lomba kaligrafi, peserta berasal dari kalangan pelajar SMA dan sederajat. Sebanyak 30 peserta mengikuti kompetisi tersebut dengan komposisi peserta putra dan putri.
Agung mengatakan peserta datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Di antaranya berasal dari Jombang, Pasuruan, Gresik, Malang, Lumajang, Sidoarjo hingga Bangkalan.
“Jumlah peserta ada 30. Jawa Timur,” kata Agung.
Ia menambahkan, peserta yang berasal dari wilayah Surabaya dan Sidoarjo tercatat cukup banyak. Salah satu faktornya karena kedua wilayah tersebut relatif dekat dengan lokasi kegiatan.
“Kalau peserta, saya lihat ini masih di wilayah Surabaya dan Sidoarjo karena mungkin terdekat,” jelasnya.
Agung menjelaskan, kategori yang diperlombakan dalam Festival Syariah kali ini adalah kaligrafi kontemporer. Peserta diberikan kesempatan menuangkan kreativitas melalui satu ayat yang menjadi materi dalam perlombaan.
“Kalau ini kategori kaligrafi kontemporer,” ujarnya.
Ia mengatakan penilaian sepenuhnya diserahkan kepada dewan juri yang memiliki kompetensi di bidang kaligrafi. Bank Indonesia memilih juri dengan mempertimbangkan kapasitas dan pengalaman mereka agar proses penilaian berjalan objektif.
“Memang kami melihat dewan juri yang mempunyai kapasitas untuk penilaian kaligrafi. Kami mencari ustaz ataupun dewan juri yang kami nilai mumpuni untuk menjadi penilai sehingga hasilnya juga bisa fair dan kualitasnya baik,” ungkap Agung.
Dua nama yang dipercaya menjadi dewan juri dalam lomba tersebut adalah Ustaz Sulaiman dan Ustaz Muhammad Yasmin Hanani.
Agung berharap keterlibatan pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur dapat membuat Festival Syariah tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana memperluas pemahaman dan kepedulian generasi muda terhadap ekonomi syariah.
“Jadi, kami dukung semua, se-Jawa Timur ini,” pungkasnya.
Editor : Tri Karyono