SURABAYA, KABARHIT.COM – Komite Perekat Persaudaraan Maluku (KPPM) Jawa Timur resmi menggelar pelantikan pengurus periode 2025–2030 di Hotel Kyrie, Jalan Ciliwung No. 08, Jawa Timur, Jumat (17/1).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan, kebersamaan, serta kesatuan warga Maluku di perantauan.
KPPM dibentuk sebagai wadah untuk memperkuat semangat persaudaraan yang rukun dan harmonis di antara masyarakat Maluku yang berada di Jawa Timur, tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang.
Ketua Umum KPPM periode 2025–2030, Frans Huwae, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelantikan ini bertujuan memperkuat semangat perjuangan Pattimura dan menanamkannya dalam setiap langkah pengabdian demi kemaslahatan warga Maluku di seluruh Jawa Timur.
“KPPM menjadi rumah bersama bagi orang Maluku di perantauan untuk terus menjaga semangat persaudaraan, kebersamaan, dan nilai-nilai perjuangan Pattimura,” ujar Frans Huwae.
Pelantikan berlangsung dengan penuh hikmat dan nuansa kekeluargaan. Meski Gubernur Maluku dan Gubernur Jawa Timur berhalangan hadir, acara tetap berjalan lancar dan sarat makna, mencerminkan semangat pela gandong—ikatan persaudaraan yang erat antara warga Maluku Muslim dan Kristen.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan akademisi, di antaranya Prof. Dr. Paul Tahalele, Prof. Hatane, dan Prof. Burhan, yang memberikan penguatan moral dan intelektual bagi seluruh hadirin. Suasana semakin khidmat dengan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Prosesi pelantikan diawali dengan perarakan Tari Lenso oleh para penari muda Maluku sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan bagi para tamu undangan. Kehangatan acara semakin terasa saat dibacakan “Surat Cinta” dari Bang Basri Latuconsina, yang diiringi lagu Gandong, membuat seluruh hadirin larut dalam kerinduan dan semangat kebersamaan anak Maluku di tanah rantau.
Kemeriahan acara berlanjut dengan lomba makan papeda, makanan khas Maluku berbahan dasar sagu yang disajikan bersama kuah colo-colo ikan cakalang. Lomba ini mengundang tawa dan keakraban, sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Maluku.
Sebagai pembina KPPM, Prof. Dr. Paul Tahalele menegaskan bahwa keberadaan KPPM di Jawa Timur dapat menjadi perekat persaudaraan sekaligus memperkuat kontribusi warga Maluku bagi Jawa Timur dan Indonesia.
Ia juga memaparkan sejarah dan kekayaan Maluku yang berasal dari peradaban Melanesia, Austronesia, dan Papua, serta pengaruh bangsa Portugis, Belanda, Arab, dan Tionghoa. Menurutnya, Maluku dikenal sebagai negeri rempah dengan ribuan pulau indah serta budaya yang kaya, mulai dari musik, tarian, hingga seni tradisional seperti Cakalele, Saureka, dan Poloneis.
Prof. Paul turut menyinggung perjuangan para pahlawan Maluku seperti Pattimura, Antone Rebhok, Philip Latumahina, Ulupaha, Melchior Tasalauia, dan Martha Christina Tiahahu, yang dikenal dengan semboyan perjuangan “Lawa Mena Haulala”—lebih baik mati daripada menyerah.
Namun demikian, ia juga mengingatkan tantangan yang masih dihadapi Maluku saat ini.
“Maluku masih berada di urutan bawah dalam tingkat kemiskinan dan pendidikan. Meneladani Pattimura, kita harus bangkit dari kemiskinan dan meningkatkan kualitas pendidikan,” tegasnya.
Acara semakin meriah saat makan papeda tanpa sendok dan garpu, yang turut diikuti oleh Basri Latuconsina dari perwakilan DPD Maluku dan Lia Istifhama dari perwakilan DPD Jawa Timur. Keduanya tampak menikmati kebersamaan tersebut.
Menurut Basri Latuconsina, kehadiran KPPM menjadi penguat silaturahmi dan persaudaraan sesama orang Maluku yang harus terus dijaga agar lestari.
“Semangat persaudaraan ini harus terus bergerak bersama untuk memajukan Maluku, baik di perantauan maupun di tanah Maluku sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Lia Istifhama mengaku sangat senang mengikuti rangkaian acara, khususnya lomba makan papeda.
“Saya sangat menikmati acara hari ini. Orang Maluku itu luar biasa, apalagi pandai menyanyi,” katanya dengan lugas.
Pemilik Hotel Kyrie, Mama Evi, juga menyampaikan rasa bahagianya karena hotel miliknya menjadi tempat berlangsungnya acara budaya Maluku.
“Saya senang hotel saya bisa dipakai untuk acara orang Maluku. Ini menandakan Maluku ada di hati saya, dan saya merasa menjadi bagian dari keluarga Maluku,” tuturnya ( Petrus)
Editor : Deni